Islam kontemporer pun ikut terbawa arus. Gaya-gaya berpikir yang cenderung dekonstruksi dengan landasan relativisme, saat ini menghiasi jagat pemikiran Islam kontemporer.[1] Kebenaran mutlak agama Islam, kebenaran mutlak al-Qur`an sebagai wahyu Allah secara verbatim, dan keyakinan adanya satu nilai kebenaran, didekonstruksi dengan dalih tidak ada yang mengetahui kebenaran sejati selain Allah swt. Manusia hanya bisa mendekatinya, [...]
Al-Qur`an adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt untuk kemashlahatan umat manusia. Al-Qur`an merupakan rujukan utama dalam memecahkan setiap persoalan kehidupan manusia. Ia menjadi sumber pertama dan utama ajaran Islam, termasuk dalam hal penentuan hukum. Semua umat Islam sepakat bahwa al-Qur`an memiliki posisi yang sentral dalam keberagamaan. Siapa saja yang tidak merujuk pada al-Qur`an dalam mengatasi persoalan kehidupannya, bisa dipastikan orang atau aliran yang dimaksud “sesat” dan “menyimpang”.
Ketika membicarakan Israel, permasalahan selalu saja mentok pada “klaim historis” bangsa Yahudi dan bangsa Arab Palestina. Yakni bahwa kedua-duanya sama-sama penduduk asli Palestina, oleh karenanya harus ditempatkan secara bersama-sama di Palestina. Pembagian wilayah versi PBB pun dipandang sebagai satu-satunya solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak.
Dalam hal ini, semua ulama ijma’ bahwa urutan ayat dalam masing-masing surat adalah tauqifiy; berdasarkan bimbingan Nabi Saw. Sementara urutan surat-surat, sebagian ada yang menyatakan ijtihadiy, sebagiannya ada yang mengatakan tauqifiy. Tapi pendapat yang lebih kuat adalah tauqifiy kecuali surat al-Bara`ah/at-Taubah yang tidak dicantumkan padanya basmalah.
Otentisitas al-Qur`an diragukan. Dari sejak zaman Nabi saw, Abu Bakar, sampai ‘Utsman, pengumpulan al-Qur`an dinilai bermasalah. Pemikiran yang berawal dari orientalis ini hari ini banyak juga diikuti oleh beberapa “cendekiawan” muslim.
Sebagian sarjana muslim sangat bersemangat menerapkan hermeneutika pada al-Qur`an. Ujung-ujungnya, al-Qur`an disamakan dengan Bible. Sebuah produk sejarah yang dihasilkan manusia, penafsiran terhadapnya relatif, dan ajaran-ajaran yang dikandungnya harus dirombak total agar sesuai dengan zaman. Seperti itukah?









Komentar Terakhir