<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pemikiran Islam</title>
	<atom:link href="http://pemikiranislam.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pemikiranislam.net</link>
	<description>Situs Pemikiran Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 May 2013 17:10:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hadits Dla’if dan Palsu Seputar Rajab</title>
		<link>http://pemikiranislam.net/2013/05/hadits-dlaif-dan-palsu-seputar-rajab/</link>
		<comments>http://pemikiranislam.net/2013/05/hadits-dlaif-dan-palsu-seputar-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 17:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nashruddin Syarief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pemikiranislam.net/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menyusun satu kitab khusus tentang keistimewaan bulan Rajab: Tabyinul-‘Ajab bima Warada fi Fadlli Rajab (Menjelaskan Keanehan; Kajian Hadits-hadits tentang Keutamaan Rajab). Menurut ulama besar hadits dari madzhab Syafi’i ini, dari 38 hadits yang ditelitinya tersebut, sebagiannya dla’if, dan sebagiannya lagi palsu (maudlu’), tidak ada satu pun yang shahih. &#160; Dalam mengawali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><strong></strong><a href="http://pemikiranislam.net/2013/05/hadits-dlaif-dan-palsu-seputar-rajab/hilal/" rel="attachment wp-att-1228"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1228" title="hilal" src="http://pemikiranislam.net/wp-content/uploads/2013/05/hilal-200x194.jpg" alt="" width="200" height="194" /></a>Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menyusun satu kitab khusus tentang keistimewaan bulan Rajab: <em>Tabyinul-‘Ajab bima Warada fi Fadlli Rajab </em>(Menjelaskan Keanehan; Kajian Hadits-hadits tentang Keutamaan Rajab). Menurut ulama besar hadits dari madzhab Syafi’i ini, dari 38 hadits yang ditelitinya tersebut, sebagiannya dla’if, dan sebagiannya lagi palsu (<em>maudlu’</em>), tidak ada satu pun yang shahih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam mengawali tulisannya, Ibn Hajar menyatakan: “Tidak ada satu pun hadits shahih yang bisa dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, keutamaan shaumnya, termasuk shaum hari-hari tertentunya, juga shalat malam pada malam-malam tertentu. Kesimpulan ini sudah pernah dikemukakan juga oleh ulama hadits sebelum saya, yakni Imam Abu Isma’il al-Harawi al-Hafizh. Meskipun sebagian ulama ada yang menoleransi penggunaan hadits-hadits dla’if dalam hal <em>fadla`il </em>(amal-amal tambahan –penerjemah) selama tidak <em>maudlu’ </em>(palsu), tetap saja syaratnya harus diyakini oleh setiap yang mengamalkannya bahwa hadits tersebut dla’if. Syarat lainnya tidak boleh dipopulerkan, sebab nanti akan ada orang-orang yang beramal dengan hanya berdasar pada hadits dla’if. Sehingga lahirlah syari’at baru (bid’ah –penerjemah). Dampak yang lebih parahnya, orang-orang yang jahil menilainya sebagai <em>sunnah shahihah </em>(sunnah Nabi saw—penerjemah).”</p>
<p>Ibn Hajar melanjutkan: “Hal senada dikemukakan juga oleh Ustadz Abu Muhammad ibn ‘Abdis-Salam dan lainnya. Seseorang dalam menghadapi hadits dla’if mesti mewaspadai ancaman Nabi saw:</p>
<h3 dir="RTL">مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيْثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَذَّابِيْنَ</h3>
<p><em>Sapa yang menyampaikan hadits dariku yang ia tahu bahwa itu bohong (bukan dariku), maka ia termasuk salah seorang pembohong.</em></p>
<p>Maka apalagi bagi orang yang sampai mengamalkannya. Dalam hal ini tidak perlu dibedakan antara hadits-hadits tentang <em>ahkam </em>(hukum) dan <em>fadla`il </em>(amal-amal tambahan), sebab semuanya termasuk syari’at.” (hlm. 11-12)</p>
<p>Hadits-hadits yang dimaksud di antaranya (keterangan dalam kurung dari penulis, bukan dari Ibn Hajar):</p>
<h3 dir="RTL">إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبَ سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ</h3>
<p><em>Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai yang namanya Rajab, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Siapa yang shaum satu hari pada bulan Rajab, Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut </em>(As-Suyuthi dalam al-Jami’us-Shaghir no. 2326 menyatakan: Hadits dla’if. Al-Albani dalam As-Silsilah ad-Dla’ifah no. 1898 menyatakan: Hadits bathil)<em>.</em></p>
<p>Ibn Hajar menyatakan: Dalam sanadnya terdapat rawi bernama Manshur ibn Yazid yang <em>majhul </em>(bukan perawi hadits), dan haditsnya bathil. Dalam sanad yang lain terdapat rawi bernama Ibnul-Mubarak as-Saqthi seorang pemalsu hadits, dan ‘Ashim ibn Abi Nadlrah yang tidak dikenal (bukan perawi hadits).</p>
<h3 dir="RTL">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ r إِذَا دَخَلَ رَجَبُ قَالَ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا فِى رَمَضَانَ</h3>
<p>Dari Anas ibn Malik ia berkata: Nabi saw apabila masuk bulan Rajab berdo’a: <em>Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada Ramadlan </em>(Syu’aib al-Arnauth dalam Musnad Ahmad no. 2346 menyatakan: Hadits dla’if. As-Suyuthi dalam al-Jami’us-Shaghir no. 6678 menyatakan: Hadits dla’if)</p>
<p>Ibn Hajar menyatakan: Dalam sanadnya terdapat rawi bernama Zaidah ibn Abir-Raqqad, seorang <em>munkarul-hadits </em>(haditsnya harus diingkari karena ia seorang yang bodoh, sesat, jelek akhlaq, dan rusak aqidah. Imam al-Bukhari juga menyatakannya sebagai <em>munkarul-hadits </em>[lihat Majma’uz-Zawa`id 2 : 165])</p>
<h3 dir="RTL">رَجَبُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِي وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي، فَمَنْ صَامَ رَجَبَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا اِسْتَوْجَبَ رِضْوَانَ اللهِ اْلأَكْبَرَ وَأَسْكَنَهُ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ يَوْمَيْنِ فَلَهُ مِنَ الْأَجْرِ ضِعْفَانِ وَوَزْنُ كُلِّ ضِعْفٍ مِثْلُ جِبَالِ الدُّنْيَا، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ خَنْدَقًا طُوْلَ مَسِيْرَةِ ذَلِكَ سَنَةٍ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ عُوْفِيَ مِنَ الْبَلاَءِ مِنَ الْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَالْبَرَصِ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ سِتَّةَ أَيَّامٍ خَرَجَ مِنْ قَبْرِهِ وَوَجْهُهُ أَضْوَأُ مِنَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لِجَهَنَّمَ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ يَغْلِقُ اللهُ عَنْهُ بِصَوْمِ كُلِّ يَوْمٍ بَابًا مِنْ أَبْوَابِهَا، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لِلْجَنَّةِ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابٍ يَفْتَحُ اللهُ لَهُ بِصَوْمِ كُلِّ يَوْمٍ بَابًا مِنْ أَبْوَابِهَا، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ تِسْعَةَ أَيَّامٍ خَرَجَ مِنْ قَبْرِهِ وَهُوَ يُنَادِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ يُرَدُّ وَجْهُهُ دُوْنَ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ جَعَلَ اللهُ لَهُ عَلَى كُلِّ مِيْلٍ مِنَ الصِّرَاطِ فِرَاشًا يَسْتَرِيْحُ عَلَيْهِ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ أَحَدَ عَشَرَ يَوْمًا لَمْ يَرَ فِي الْقِيَامَةِ غَدَاءً أَفْضَلَ مِنْهُ إِلاَّ مَنْ صَامَ مِثْلَهُ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ اثْنَيْ عَشَرَ يَوْمًا كَسَاهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُلَّتَيْنِ: اَلْحُلَّةَ الْوَاحِدَةَ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ ثَلاَثَةَ عَشَرَ يَوْمًا يُوْضَعُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَائِدَةً فِي ظِلِّ الْعَرْشِ فَيَأْكُلُ وَالنَّاسُ فِي شِدَّةٍ شَدِيْدَةٍ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ أَرْبَعَةَ عَشَرَ يَوْمًا أَعْطَاهُ اللهُ تعالى مِنَ الثَّوَابِ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَمَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا يَقِفُهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَوْقِفَ الْآمِنِيْنَ</h3>
<p><em>Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku (Nabi saw), dan Ramadlan bulan umatku. Siapa yang shaum Rajab karena iman dan mengharap ridla Allah, ia pasti memperoleh keridlaan Allah yang besar dan Dia akan menempatkannya dalam surga Firdaus yang paling tinggi. Siapa yang shaum Rajab dua hari akan mendapatkan pahala dua kali lipat, masing-masingnya seperti pegunungan di dunia. Siapa yang shaum Rajab tiga hari Allah akan membuatkan di antaranya dan neraka sebuah parit yang besarnya sejarak tempuh satu tahun. Siapa yang shaum Rajab empat hari, akan diselamatkan dari cobaan, gila, buta, kusta, gangguan al-Masih Dajjal dan siksa kubur. Siapa yang shaum Rajab enam hari akan dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang terang melebihi bulan purnama. Siapa yang shaum Rajab tujuh hari, maka sungguh pintu neraka yang jumlahnya tujuh akan ditutup darinya seukuran shaumnya. Siapa yang shaum Rajab delapan hari maka sungguh pintu surga yang jumlahnya delapan akan dibukakan untuknya seukuran shaumnya. Siapa yang shaum Rajab sembilan hari, akan dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berseru La ilaha illal-‘Llah, dan tidak ada yang bisa menghalanginya selain surga. Siapa yang shaum Rajab 10 hari, Allah akan menjadikan setiap mil dari shirath sebagai kasur untuk istirahatnya. Siapa yang shaum Rajab 11 hari akan mendapatkan hidangan terbaik yang hanya bisa didapatkan oleh orang yang shaum sepertinya atau lebih banyak. Siapa yang shaum Rajab 12 hari, Allah awj akan memakaikannya dua helai sutera pada hari kiamat; yang satu helainya nilainya lebih baik daripada dunia dan seisinya. Siapa yang shaum Rajab 13 hari akan disediakan untuknya hidangan di bawah ‘Arsy dan ia akan memakannya, sedang orang lain kesusahan. Siapa yang shaum Rajab 14 hari, Allah akan memberinya pahala yang tidak pernah terlihat mata, terdengar telinga, dan terpikirkan oleh akal manusia. Dan siapa yang shaum Rajab 15 hari, Allah akan menempatkannya di tempat orang-orang yang aman/jujur </em>(As-Suyuthi dalam al-Jami’us-Shaghir no. 4411 menyatakan: Hadits dla’if. As-Syaukani dalam Al-Fawa`idul-Majmu’ah no. 47, 48, 100 menyatakan: Hadits <em>maudlu’/</em>palsu, rawi-rawinya <em>majhul </em>[bukan perawi hadits]. Ibnul-Jauzi dalam al-Maudlu’at 2 : 205-206 menyatakan: Hadits <em>maudlu’/</em>palsu).</p>
<p>Ibn Hajar menyatakan: Hadits <em>maudlu’</em> (palsu), ada rawi bernama an-Nuqasy seorang pemalsu hadits dan al-Kisa`i yang tidak dikenal. Al-Baihaqi menyatakan hadits ini <em>munkar. </em>Matan (redaksi) hadits ini <em>la ashla lahu </em>(tidak ada dasarnya/sanadnya sama sekali). Abul-Barakat Ibnul-Mubarak as-Saqthi yang membuat-buat sanadnya sehingga seolah-oleh berasal dari Jabir ibn Yasin. Dalam sanad lain yang dipalsukan juga ada seorang periwayat bernama ‘Amr ibn al-Azhari. Yahya ibn Ma’in dan Aban menilainya <em>kadzdzab </em>(pendusta)</p>
<h3 dir="RTL">مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةً، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ الْأَمِيْنَ جِبْرِيْلَ عَلَّمَنِي ذَلِكَ. قُلْنَا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: حَفِظَهُ اللهُ فِي نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ</h3>
<p><em>“Siapa yang shalat Maghrib di malam pertama Rajab, lalu shalat sesudahnya 20 raka’at, di setiap raka’at ia membaca al-Fatihah dan Qul Huwal-‘Llahu Ahad, salam 10 kali salam, tahukah kalian bagaimana pahalanya? Sesungguhnya ar-Ruhul-Amin Jibril mengajariku hal itu.” </em>Kami menjawab: <em>“Allah dan Rasulnya lebih tahu.” </em>Nabi saw bersabda: <em>“Allah akan menjaga dirinya, hartanya, keluarganya, dan anaknya, ia akan dilindungi dari siksa kubur, dan ia akan lewat di atas shirath seperti kilat, tanpa dihisab dan disiksa.” </em>(al-Maudlu’at 2 : 123)</p>
<p>Ibn Hajar berkata: Ibnul-Jauzi dalam kitabnya, <em>al-Maudlu’at, </em>menyatakan bahwa hadits ini <em>maudlu’ </em>(palsu) dan rawi-rawinya <em>majhul </em>(bukan perawi hadits).</p>
<h3 dir="RTL">مَا مِنْ أَحَدٍ يَصُوْمُ أَوَّلَ خَمِيْسٍ مِنْ رَجَبَ ثُمَّ يُصَلِّي فِيْمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ وَالْعَتَمَةِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً وَإِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ صَلَّى عَلَيَّ سَبْعِيْنَ مَرَّةً يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ ثُمَّ يَسْجُدُ وَيَقُوْلُ فِي سُجُوْدِهِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً: سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَقُوْلُ سَبْعِيْنَ مَرَّةً: رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَةً أُخْرَى وَيَقُوْلُ فِيْهَا مِثْلَ مَا قَالَ فِي السَّجْدَةِ اْلأُوْلَى ثُمَّ يَسْأَلُ حَاجَتَهُ فِي سُجُوْدِهِ فَإِنَّهَا تُقْضَى</h3>
<p><em>Tidak ada seorang pun yang shaum pada hari Kamis pertama Rajab, kemudian shalat antara ‘Isya dan ‘atamah (menjelang tengah malam) 12 raka’at, setiap dua raka’at dipisah salam, di setiap raka’at membaca al-Fatihah sekali, Inna anzalnahu fi lailatil-qadr tiga kali, Qul Huwal-‘Llahu Ahad 12 kali, lalu setelah selesai shalat bershalawat kepada Nabi 70 kali dengan bacaan: Allahumma shalli ‘ala Muhammad an-Nabiyyil-Ummiy wa ‘ala alihi [Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi dan kepada keluarganya], kemudian sujud sambil membaca 70 kali: Subbuhun Quddusun Rabbul-mala`ikah war-ruh [Mahasuci dan Mahakudus Rabb semua malaikat dan ruh], kemudian mengangkat kepalanya (duduk) dan membaca 70 kali: Rabbi-ghfir wa-rham wa tajawaz ‘amma ta’lam innaka Antal-A’azzul-Akram [Wahai Rabb, ampunilah, rahmatilah, dan hapuskanlah dosa yang Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Mahagagah dan mulia], kemudian sujud yang kedua dan membaca seperti sujud pertama, kemudian memohon keperluannya dalam sujudnya, maka pasti dikabulkan </em>(al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Takhrij Ahaditsil-Ihya no. 629 menyatakan: Hadits <em>maudlu’/</em>palsu).</p>
<p>Shalat ini dinamai shalat Raghaib. Ibn Hajar berkata: Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah saw. Seorang periwayat bernama Ibn Jahdlam dinilai pendusta. Periwayat lainnya <em>majhul </em>(bukan perawi hadits).</p>
<p>Terdapat juga hadits yang menyinggung keutamaan shalat di malam pertengahan Rajab dan 27 Rajab. Karena keterbatasan ruangan, tidak bisa kami tuliskan, dan keduanya dinyatakan oleh Ibn Hajar sebagai hadits palsu yang dinisbatkan kepada Nabi saw. Demikian juga hadits-hadits lainnya yang semuanya berjumlah 38 hadits. Tidak dapat kami tuliskan karena keterbatasan ruang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pemikiranislam.net/2013/05/hadits-dlaif-dan-palsu-seputar-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
