قَالَتْ عائشةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ r يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَكَانَ يَقُولُ خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى النَّبِيِّ r مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً دَاوَمَ عَلَيْهَا
‘Aisyah—semoga Allah meridlainya—berkata: “Nabi saw tidak pernah shaum dalam satu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh beliau shaum Sya’ban keseluruhannya.” Beliau juga bersabda: “Beramallah semampu kalian, sebab Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan.” ‘Aisyah melanjutkan: “Shalat yang paling disukai Nabi saw adalah yang dawam (dilaksanakan terus menerus/rutin) meskipun sedikit (raka’atnya). Dan beliau apabila shalat satu shalat, beliau selalu merutinkannya.”
Takhrij Hadits
- Shahih al-Bukhari kitab as-shaum bab shaum Sya’ban no. 1970.
- Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shiyamin-Nabi fi ghairi Ramadlan no. 2778
- Sunan an-Nasa`i kitab as-shiyam bab dzikr ikhtilaf alfazhin-naqilin li khabar ‘Aisyah fihi no. 2179-2181, bab shaumin-Nabi saw no. 2355-2356.
- Sunan Ibn Majah kitab as-shiyam bab ma ja`a fi wishal Sya’ban bi Ramadlan no. 1649, bab ma ja`a fi shiyamin-Nabi saw no. 1710.
- Musnad Ahmad bab hadits ‘Aisyah no. 25011, 25144, 25357, 25599, 26166, bab hadits Ummi Salamah no. 26560
Syarah Mufradat
Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah, atau bulan sebelum bulan Ramadlan. Kata Sya’ban satu akar kata dengan syu’bah (cabang) dan syu’ub (kelompok-kelompok) yang makna asalnya ‘pemisahan’ atau ‘cerai berai’. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar itu disebabkan masyarakat Arab zaman dahulu pada bulan ini berpisah-pisah untuk mencari air, atau berpisah-pisah dan berkelompok-kelompok tinggal di hutan sesudah bulan Rajab yang haram (Fathul-Bari kitab as-shaum bab shaum Sya’ban). Maksudnya, bulan Rajab adalah bulan haram berperang sehingga aman untuk tinggal di pedesaan/perkotaan. Sementara bulan Sya’ban bukan bulan haram berperang sehingga tidak aman dan banyak yang memilih tinggal di hutan-hutan.
Syarah Ijmali
Hadits di atas dimasukkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab as-shaum bab shaum Sya’ban. Maksudnya, Imam al-Bukhari menjadikan hadits di atas sebagai dasar dalil untuk pengamalan “Shaum Sya’ban”. Istilah “Shaum Sya’ban” itu sendiri penulis gunakan sesuai dengan penamaan Imam al-Bukhari tersebut. Selain Imam al-Bukhari, yang menggunakan istilah shaum Sya’ban adalah Imam Abu Dawud. Sementara Imam Muslim dalam kitab haditsnya menggunakan istilah “Shaum Surar Sya’ban” (shaum akhir Sya’ban).
Selain hadits di atas, Imam al-Bukhari juga mencantumkan hadits lain dalam kaitan shaum Sya’ban ini, yaitu:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ r يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ r اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Dari ‘Aisyah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: “Rasulullah saw shaum sampai kami berkata ‘Beliau tidak buka’, dan berbuka sampai kami berkata ‘Beliau tidak shaum’. Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum satu bulan sempurna kecuali Ramadlan. Dan aku tidak pernah melihat beliau banyak shaum dalam satu bulan melebihi bulan Sya’ban.” (Shahih al-Bukhari no. 1969).
Maksud hadits ini, menurut al-Hafizh Ibn Hajar, Nabi saw selalu shaum sunat dalam bulan Sya’ban dan selainnya. Tetapi shaum sunat dalam bulan Sya’ban lebih banyak dibanding bulan-bulan lainnya, tentunya selain bulan Ramadlan yang wajib sebulan penuh (Fathul-Bari kitab as-shaum bab shaum Sya’ban). Penjelasan dari ‘Aisyah dalam riwayat ini juga menegaskan bahwa maksud Nabi saw shaum Sya’ban kullahu (keseluruhannya), bukan berarti sebulan penuh, melainkan mu’zhamahu (kebanyakannya). Sebab hanya bulan Ramadlan saja Nabi saw shaum satu bulan penuh, dan ungkapan kullahu dalam makna mu’zhamahu dibenarkan oleh kaidah bahasa Arab. Dalam riwayat Muslim, ‘Aisyah menerangkan lebih jelas lagi apa maksud Nabi saw shaum Sya’ban kullahu:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ … وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “…Aku tidak pernah melihat beliau shaum satu bulan pun yang lebih banyak daripada Sya’ban. Beliau shaum Sya’ban hampir keseluruhannya, hanya sedikit hari saja beliau tidak shaum.” (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shiyamin-Nabiy fi ghairi Ramadlan no. 2778).
Praktik dari shaum Sya’ban itu berarti memperbanyak shaum sunat pada bulan Sya’ban. Masuk dalam kategori shaum sunat ini di antaranya: shaum tengah bulan (tanggal 13, 14, 15 qamariyyah/hijriah. Nama lainnya ayyamul bidl; hari-hari dimana sinar bulan purnama putih terang), shaum Senin Kamis, shaum Dawud (shaum dua hari sekali), atau shaum muthlaq (shaum yang terlepas dari kategorisasi apapun atau shaum secara tiba-tiba tanpa ada rencana di waktu malamnya, meski tidak ada kaitannya dengan momen apapun, sebagaimana pernah Rasul saw amalkan). Atau memanfaatkannya untuk qadla (mengganti) shaum Ramadlan, sebagaimana biasa dilakukan istri-istri Nabi saw:
قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللهِ r
‘Aisyah berkata: Kewajiban shaum Ramadlan yang harus aku ganti tidak pernah mampu aku ganti (qadla) kecuali pada bulan Sya’ban, disebabkan sibuk melayani Rasulullah saw (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab qadla Ramadlan fi Sya’ban no. 2743. Pada riwayat lainnya [no. 2747] ‘Aisyah menyatakan bahwa itu juga terjadi pada istri-istri Nabi saw lainnya).
Menurut Imam an-Nawawi, sikap ‘Aisyah tersebut disebabkan seorang wanita jika hendak shaum harus memohon izin terlebih dahulu kepada suaminya. Sementara itu ‘Aisyah cukup segan meminta izin kepada Rasul saw walau pasti Rasul saw mengizinkannya. Lalu mengapa di bulan Sya’ban ‘Aisyah baru bisa meng-qadla, menurut an-Nawawi, sebab Rasul saw memang biasa memperbanyak shaum di bulan Sya’ban, sehingga ‘Aisyah pun bisa leluasa meng-qadla pada bulan tersebut tanpa harus memohon izin kepada Rasulullah saw (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim).
Satu hal yang menjadi catatan dari ‘Aisyah dalam hal ini yakni dawam (rutinitas/kontinuitas). Maksudnya, sebagaimana ditegaskan ulang oleh Ibn Hajar, setiap orang yang belum mampu men-dawam-kan shaum sunat jangan terlalu memaksakan diri untuk memperbanyak shaum sunat di bulan Sya’ban, sebab amal yang dituntut dari manusia oleh Allah swt adalah amal yang sesuai kemampuan. Dan kemampuan itu bisa tercapai dengan dawam. Dengan demikian, shaum Sya’ban adalah shaum yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah dawam shaum sunat di bulan-bulan lainnya, untuk kemudian ditingkatkan lagi intensitasnya di bulan Sya’ban.
Jika muncul pertanyaan kenapa Rasul saw memperbanyak shaum di bulan Sya’ban, maka jawabannya, menurut Ibn Hajar, di antaranya riwayat an-Nasa`i berikut ini.
قال أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَ رَمَضَانَ وهو شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Usamah ibn Zaid bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa aku tidak melihat anda shaum pada satu bulan sebagaimana shaum anda pada bulan Sya’ban?” Nabi saw menjawab: “Itu adalah bulan yang dilupakan oleh orang-orang, ada di antara Rajab dan Ramadlan, padahal pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabbul-‘alamin, maka aku sangat ingin ketika amalku diangkat aku sedang dalam keadaan shaum.” (Sunan an-Nasa`i kitab as-shiyam bab shaumin-Nabiy bi abi huwa wa ummi no. 2357. Imam al-Albani menilainya hasan, disebabkan seorang rawi, Tsabit ibn Qais, yang shaduq yuham [jujur, tapi kecerdasannya sedikit diragukan]. Adapun rijal lainnya tsiqat [terpercaya]. Dalam jalur yang diriwayatkan al-Muqri dalam kitab al-Amali, disebutkan bahwa Sya’ban ini sama halnya dengan Senin dan Kamis, dimana pada waktu itu amal-amal hamba diangkat dan Nabi saw ingin sedang dalam keadaan shaum. As-Silisilah as-Shahihah 4 : 397 no. 1898. Dalam riwayat an-Nasa`i no. 2175 & 2176 disebutkan oleh Ummu Salamah bahwa ia tidak pernah melihat Rasulullah saw menyambung shaum dua bulan berturut-turut selain pada bulan Sya’ban dan Ramadlan. Maksudnya sebagaimana sudah disinggung di atas, bukan berarti shaum Sya’ban sebulan penuh, melainkan banyak shaum di bulan Sya’ban).
Terkait shuam surar Sya’ban, sebagaimana dimaksud oleh Imam Muslim, dalil yang dijadikan rujukannya adalah sebagai berikut:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ لَهُ أَوْ لآخَرَ أَصُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ. قَالَ لاَ. قَالَ فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ
Dari ‘Imran ibn Hushain—semoga Allah meridlai mereka berdua—bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya atau kepada orang lain (keraguan muncul dari perawi hadits. Dalam sanad lain disebut dengan tegas: kepada orang lain dan ‘Imran mendengarnya): “Apakah kamu shaum pada surar Sya’ban?” Ia menjawab: “Tidak.” Sabda Nabi saw: “Jika kamu sudah selesai (dari shaum Ramadlan), maka shaumlah dua hari (dalam sanad lain disebutkan dengan tegas ‘sebagai gantinya’).” (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shaum surar Sya’ban no. 2808-2810).
Terkait makna surar (bisa juga dibaca sarar/sirar), terdapat ikhtilaf di kalangan para ulama. Imam an-Nawawi berpendapat bahwa yang dimaksud surar (dari kata surrah/pusat) adalah tengah bulan, dan itu adalah tanggal 13, 14, dan 15 (ayyamul-bidl). Sementara jumhur ulama, termasuk al-Hafizh Ibn Hajar dan al-Qurthubi, berpendapat bahwa yang dimaksud surar adalah akhir bulan. Diambil dari kata sirr/rahasia, maksudnya malam ketika bulan menghilang, yakni tanggal 28, 29, 30. Meskipun demikian, baik Imam an-Nawawi ataupun Ibn Hajar, sama-sama berpendapat bahwa sabda Nabi saw di atas ditujukan kepada seseorang yang sudah terbiasa shaum sunat dari sejak tengah bulan sampai akhir bulan tetapi tidak melaksanakannya di bulan Sya’ban karena takut terkena larangan (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shaum surar Sya’ban; Fathul-Bari kitab as-shaum bab as-shaum fi akhirs-syahr). Larangan yang dimaksud ada dua, yang pertama adalah:
إِذَا بَقِيَ نِصْفٌ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ تَصُوْمُوْهُ
Apabila tersisa setengah bulan Sya’ban maka janganlah kalian shaum (Sunan at-Tirmidzi kitab as-shaum bab karahiyatis-shaum fin-nishfits-tsani min Sya’ban no. 738; Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab karahiyati dzalika [washl Sya’ban bi Ramadlan] no. 2339)
Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam takhrij Sunan at-Tirmidzi dan Abu Dawud. Tetapi Imam Ahmad dan Ibn Ma’in menilainya munkar. Al-Baihaqi pun menilainya dla’if. Bagi yang menilainya shahih, menurut al-Hafizh Ibn Hajar, yang dimaksud hadits ini adalah anjuran bagi mereka yang tidak terbiasa shaum untuk tidak shaum di 15 hari terakhir Sya’ban, agar nanti pas masuk bulan Ramadlan kondisi fisik mereka ada dalam keadaan prima. Larangan ini tentu tidak haram, sebab Nabi saw sendiri memperbanyak shaum di bulan Sya’ban, termasuk menganjurkan tetap shaum pada surar Sya’ban bagi yang biasa shaum, sebagaimana dinyatakannya pada hadits shuam surar Sya’ban di atas (Fathul-Bari kitab as-shaum bab la yataqaddam Ramadlan bi shaum yaum wa la yaumain).
Sementara larangan yang kedua adalah:
لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ
Janganlah salah seorang di antara kalian sengaja mendahului Ramadlan dengan shaum satu hari atau dua hari, kecuali seseorang yang sedang shaum satu shaum (yang biasa/harus dilakukannya), hendaklah ia tetap shaum pada hari itu (Shahih al-Bukhari kitab as-shaum bab la yataqaddam Ramadlan bi shaum yaum wa la yaumain no. 1914).
Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, tidak mustahil ada orang yang terlalu ihtiyath (berhati-hati) karena takut sudah masuk Ramadlan, maka ia shaum sehari atau dua hari sebelumnya. Artinya ia sengaja untuk shaum di waktu itu dengan motif seperti itu. Inilah yang dilarang Nabi saw dalam hadits di atas. Sementara shaum yang biasa dilakukan (termasuk shaum Sya’ban ini) atau shaum yang harus dilakukan (seperti shaum qadla Ramadlan), tidak menjadi soal dilakukan pada dua hari menjelang Ramadlan, sebab Nabi saw sendiri memberikan pengecualian untuk itu (Fathul-Bari kitab as-shaum bab la yataqaddam Ramadlan bi shaum yaum wa la yaumain).
Berkaitan dengan dua larangan inilah, Nabi saw memberitahu kepada seorang shahabat yang biasa shaum sunat lalu tidak melaksanakannya di fase akhir Sya’ban karena berasumsi dilarang, untuk menggantinya sesudah bulan Ramadlan. Sebab jelas, di bulan Sya’ban sudah semestinya shaum sunat ditingkatkan, bukan malah berkurang. Ini menurut Ibn Hajar sebagai sebuah pendidikan dari Nabi saw agar setiap muslim mampu dawam terhadap setiap amal dan menjaga ke-dawam-an tersebut. Kalau perlu dengan meng-qadla (mengganti) shaum sunat yang terlewatkan dan memang sudah biasa diamalkan tersebut. Ini juga menurut Ibn Hajar merupakan dalil yang jelas dari adanya qadla dalam hal shaum sunat (Fathul-Bari kitab as-shaum bab as-shaum fi akhirs-syahr).
Catatan terakhir, shaum Sya’ban ini bukan shaum Nishfu Sya’ban (setengah bulan Sya’ban) yang biasa dilaksanakan pada tanggal 15 Sya’ban dengan berbagai ritual tertentu yang kesemuanya bid’ah. Sebab hadits yang dijadikan landasannya maudlu’/palsu:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ, أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ, أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ, أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Apabila masuk malam setengah Sya’ban, maka shalat tahajjudlah di waktu malamnya dan shaumlah di siang harinya, karena sungguh Allah turun padanya ke langit paling bawah dari mulai terbenamnya matahari sampai terbit fajar, lalu berfirman: Adakah yang akan meminta ampunan, pasti Aku akan mengampuni!? Adakah yang akan meminta rizki, Aku pasti akan memberinya rizki!? Adakah orang yang diuji, Aku akan memaafkannya!? Adakah yang begini, begini!? (Sunan Ibn Majah kitab iqamatis-shalat bab ma ja`a fi lailatin-nishfi min Sya’ban no. 1388. Hadits ini maudlu’ disebabkan seorang rawi bernama Abu Bakar ibn Abi Sabrah seorang pemalsu hadits. Lihat as-Silsilah ad-Da’ifah al-Albani 5 : 131 no. 2132).
Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab.












