AR-RISALAH
Syarah Hadits Nabi SAW tentang Iman, Islam, Ihsan, dan Kiamat Jilid 1 & 2

Mengkaji 100 hadits tentang iman, islam, ihsan, dan kiamat. Setiap hadits dibedah kandungannya dengan mengkaji: (1) Takhrij Hadits yang akan menguraikan sumber-sumber riwayat dari hadits yang dikaji, dan jika dipandang perlu akan menyajikan juga analisa matan dan sanadnya, khususnya untuk hadits yang dinilai bermasalah. (2) Syarah Mufradat, yakni penjelasan tentang kosakata yang menjadi istilah kunci dari hadits yang dikaji. (3) Syarah Ijmali, penjelasan secara umum terhadap maksud dan kandungan dari hadits, menyertakan ayat-ayat al-Qur`an dan hadits yang senada temanya, pendapat para ulama, dan beberapa catatan tambahan dari penulis sendiri sebagai hasil istiqra` dan muthala’ah.
DAFTAR ISI
Pendahuluan: Belajar Hadits, Wajib dan Harus Benar
Memahami Iman dan Islam
1. Setiap Amal Ada Niatnya
2. Konsep Agama Islam
3. Lima Pondasi Agama Islam
4. Syahadat La Ilaha illal-’Llah
5. Syahadat Muhammad Rasulullah
6. Awas Bid’ah
7. Mengukur Kualitas Shalat
8. Meninjau Ulang Zakat, Infaq, dan Shadaqah
9. Dimensi Lain Shadaqah
10. Shaum Ramadlan Mendatangkan Ampunan
11. Kriteria Shaum Ramadlan Yang Diterima
12. Shaum Jangan Terabaikan
13. Menggapai Haji Mabrur
14. Beriman kepada Malaikat
15. Beriman pada Kitab
16. Beriman pada al-Qur`an
17. Beriman pada Hari Akhir
18. Beriman pada Qadla dan Qadar (1)
19. Beriman pada Qadla dan Qadar (2)
20. Jangan Mempertanyakan Taqdir
21. Muslim Haram Darahnya (1)
22. Muslim Haram Darahnya (2)
23. Agama Itu Nashihah
Menuju Akhlaq Karimah
24. Urgensi Akhlaq Karimah
25. Berbakti kepada Orangtua
26. Mendidik Anak Tetap dalam Fithrah
27. Mencintai Nabi Muhammad saw
28. Mencintai Saudara Seagama
29. Kamu adalah Cermin Saudaramu
30. Menghormati Tetangga
31. Menghormati Tamu
32. Menjaga Lisan
33. Jangan Marah
34. Jangan Berprasangka
35. Jangan Ghibah
36. Hasud Yang Haram dan Mubah
37. Jangan Berbuat Aniaya
38. Jangan Mencaci
39. Jangan Berbuat Hijr
40. Hidup Rukun Pertanda Taqwa
41. Berawal dari Jujur dan Dusta
42. Tawadlu’ Agar Mulia
43. Taat dalam Ma’ruf
44. Iman Plus Kuat Mental
45. Senantiasa Bersabar
46. Jangan Bersikap Munafiq
47. Akhlaq Mulia Butuh Do’a
Mencapai Ihsan
48. Menjadi Wali Allah
49. Menyikapi Perintah Agama
50. Jauhi Syubhat
51. Tinggalkan Yang Meragukan
52. Tinggalkan Yang Mubah
53. 1001 Jalan Taqwa
54. Menjaga Allah swt
55. Agar Do’a Diijabah
56. Berdzikir seperti Rasulullah saw
57. Senantiasa Bertaubat
58. Tadarus al-Qur`an
59. Mengejar Lailatul-Qadar
60. Shaum Syawwal dan Sya’ban
61. Istiqamah Tidak Susah
62. Malu Standar Kebaikan
63. Riya; Syirik Jilid Dua
64. Zuhud Mendatangkan Cinta
65. Jangan Menjadi Budak Dunia
66. Jadilah Pengembara di Dunia
67. Hati-hati Godaan Harta
68. Hati-hati Ambisi Politik
69. Masuk Surga Bukan karena Amal
70. Mengejar Rahmat Allah swt
71. Sekali Lagi tentang Masuk Surga
72. Menuju Husnul Khatimah
Mewaspadai Kiamat
73. Awal Mula Fitnah (1): Hancurnya Agama
74. Awal Mula Fitnah (2): Retaknya al-Jama’ah
75. Awal Mula Fitnah (3): Pemimpin Yang Tolol
76. Fitnah Berawal dari Madinah
77. Fitnah Datang dari Timur
78. Fitnah Seperti Gelombang Lautan
79. Fitnah di Masyarakat Akar Rumput
80. Fitnah di Kalangan Shahabat
81. Berawal dari Senjata
82. Kala Fitnah Telah Mewabah
83. Terlibat dalam Kemelut Politik
84. Ta’arrub ketika Fitnah Mewabah
85. Ber’uzlah ketika Fitnah
86. Solusi dari Fitnah
87. Urgensi Imarah
88. Khilafah Hak Quraisy
89. Berlindung dari Fitnah
90. Masa Depan Lebih Suram
91. Lebih Baik Mati Saja
92. Orang Mulia Turut Binasa
93. Kobaran Api Pertanda Kiamat
94. Khalifah dari Qahthan
95. Khalifah al-Mahdi
96. Ya`juj dan Ma`juj
97. Al-Masih Dajjal
98. al-Masih ‘Isa ibn Maryam Turun ke Bumi
99. H-1 Kiamat
100. Hari H Kiamat
Agama Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jibril terdiri dari iman, islam, ihsan dan pemahaman akan tanda-tanda kiamat. Memahami agama Islam dengan sendirinya memahami rukun-rukun agama tersebut. Buku AR-RISALAH (jilid 1 & 2) ini menghadirkan kajian komprehensif hadits-hadits Nabi saw di seputar iman, islam, ihsan dan kiamat. Penting untuk dimiliki oleh setiap orang yang hendak memahami dasar-dasar agamanya dengan benar.
Buku ini berbicara tentang berbagai masalah, tentang ubudiyah, maliyah dan bahkan siyasah. Saya yang sudah berumur setua ini, selaku Ketua Majelis Penasehat dan Ketua Dewan Hisbah PP Persatuan Islam sungguh akan sangat berbahagia dan lega hati bila secara berkesinambungan muncul generasi Dewan Hisbah yang sungguh mujahid dan mujtahid.
(KH. Usman Shalehuddin, Ketua Dewan Hisbah Persatuan Islam)
Buku AR-RISALAH karya al-Akh al-Karim, Nashruddin Syarief adalah sebuah model lain dalam penela’ahan hadits-hadits Rasulullah saw, dengan menggunakan tema-tema yang dinilai aktual. Model tela’ah hadits dalam buku ini dapat memberikan jalan, baik bagi para penela’ah pemula maupun studi lanjut seperti di Ma’had Ali atau di Perguruan Tinggi, dalam upaya melatih takhrij hadits (menilai kedudukan suatu hadits) dan pendalaman makna menggunakan metode yang digunakan penulis dalam uraian-uraiannya.
(Prof. M. Abdurrahman, M.A, Ketua Umum PP. Persatuan Islam)
Tidak seperti menafsirkan al-Qur`an yang sudah jelas shahihnya, sebelum mengurai hadits, perlu ditimbang dulu derajat keshahihannya. Keshahihan hadits juga ada tingkatannya. Salah satunya diukur dengan seberapa banyak sanad yang meriwayatkan khabar dari Rasulullah saw tersebut. Bagaimana kualitas rawi yang menceritakannya. Ananda Nashruddin Syarief dengan tekun telah mensyarah hadits Nabi saw disertai takhrijnya dalam bukunya, AR-RISALAH ini. Buku ini selain enak dibaca, juga perlu dimiliki oleh para da’i dan muballigh, sehingga dapat dijadikan rujukan dan bahan khutbah.
(Ustadz M. Rahmat Najieb, Mudir ‘Am Pesantren Persis Ciganitri Bandung)
Suatu karya tidak selalu lahir karena ide brilian dan otak cemerlang, tetapi juga karena ketekunan. Seringkali karena ketekunan pula hal yang biasa menjadi luar biasa. Buku ini telah menunjukkan ketekunan penulisnya yang layak dibanggakan.
(Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum, Ketua Umum PP. Pemuda Persatuan Islam)
Spesifikasi buku : Ukuran B5, setiap jilidnya 360-an hlm
Harga buku: @ Rp. 60.000,- (dua jilid : Rp. 120.000,-)
Untuk pemesanan dalam kota Bandung
hub: 081220819805 (Penulis buku)
Untuk pemesanan luar kota Bandung hub: 081321758780 (Hiban)
mohon kejelasan hadits imam mahdi, terutama kredibelitas para rawinya. demi kemurnian sebuah hadits.
ust Amin Mukhtar berkata dalam makalahnya :
???? ????? ???????? ???????: ???????? ???????? ????? ???????? ??????????? ???? ????????? ???? ?????? ?????????.
- ???? ??? ???? ???? ???? ???????? –
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,
‘Al-Mahdi di antara keturunanku, yaitu cucu fatimah.” (H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, III:310; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah IV:414; dan al-Hakim, al-Mustadrak IV:557).
Hadis Kedua
???? ?????? ????? ?????: ????? ??????? ????? ??? ???????? ?????????? ?????? ???????? ????????? ?????? ???? ?????? ??????? ????????? ??????? ??????. -???? ??? ???? ???????? ???? ???? ???? ??? ???? ? ??? ????-
Dari Ibnu Masud, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Dunia tidak akan binasa sehingga seorang laki-laki dari ahlu baitku yang namanya sesuai dengan namaku menguasai Arab.” (H.r. Ahmad, Musnad al-Imam Ahmad, VI:42, No. 3.571, hal. 44 No. 3.572, hal. 45 No. 3.573, VII:174, No. 4.098, hal. 311, No. 4.279; Abu Daud, Sunan Abu Daud, III:310; At-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi VI:485; Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban VII:576; Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf VIII:678; dan Abu Nu’aim, Hilyatul Aulia III:101-102).
Hadis Ketiga
???? ??????? ?????: ????? ???????? ????? ??????????? ?????? ?????? ????????? ?????????? ????? ??? ????????. -???? ???? ???? ???? ???? ??? ????.
Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Al-Mahdi dari kami ahlul bait, Allah membimbingnya dalam satu malam.” (H.r. Ahmad, Musnad al-Imam Ahmad ; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah IV:413; dan Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf VIII:678).
Hadis Keempat
???? ?????? ?????: ????? ???????? ????? ??? ????????? ????????? ?????? ??????? ????? ?????????? ?????? ?????????? ????? ???????? ?????? ?????? ????? ???????? ?????????? ?????? ????? ??????? ???????? ????? ??????????? ?????? ??????? ???? ????????. ???? ??? ???? ????????-
Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak akan bertambah perkara itu (berpegang kepada agama dan sunnah) kecuali bencana, dan tidaklah dunia kecuali mati, dan tidaklah manusia kecuali rakus, dan tidak akan terjadi kiamat kecuali manusia dalam keadaan jahat, dan tidak ada mahdi kecuali Isa bin Maryam.”
(H.r. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah IV:378; al-Hakim, al-Mustadrak IV:441).
Hadis Keenam
???? ????????? ?????: ????? ???????? ????? ?????????? ???? ?????? ??????????? ??????. -???? ?????????.
Dari Usman, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Al-Mahdi itu keturunan
Al-Abbas pamanku.” (H.r. Ad-Daraquthni, Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah I:108).
Hadis Ketujuh
???? ????? ???????? ?????: ????? ???????? ????? ?????? ??????? ???????? ??????? ???? ???????? ????????. -???? ??? ????-
Dari Abu Sa’id, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘(al-mahdi) dari kami yang Isa bin Maryam akan bermakmum kepadanya.” (H.r. Abu Nu’aim, al-Manarul Munief, hal. 134).
Hadis Kedelapan
???? ????? ???????? ????? : ????? ???????? ????? ??????????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ????????? ??????? ????????? ??????? ????????? ????? ??????? ??????? ????????? ?????????? ?????? ????????. – ???? ??? ???? ????????-
Dari Abu Sa’id, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi sebelumnya dipenuhi dangan kezhaliman dan pelanggaran. Dan ia akan berkuasa selama 7 tahun.” (H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, III:310; al-Hakim,
al-Mustadrak IV:557)
Keterangan:
A. Sanad
1. Hadis kesatu dha’if, karena semua sanadnya melalui seorang rawi yang bernama Ziyad bin Bayan dari Ali bin Nufail. Adz-Dzahabi berkata: “Hadisnya tidak sahih”. Al-Bukhari berkata, “fi isnadihi nazharun (pada sanadnya perlu diteliti).” (Mizanul I’tidal II: 87 ). Al-Uqaili berkata, “ Tidak ada mutabi’ atas Ali bin Nufail, dan ia tidak dikenal kecuali dengan hadis itu.” (Mizanul I’tidal III:160 ).
2. Hadis kedua dha’if, karena semua sanadnya melalui seorang rawi bernama Ashim bin Bahdalah (Abun Najud), dia Buruk hapalan (Mizanul I’tidal II: 357). Hadis tersebut diriwayatka pula oleh :
a. Al-Bazzar (Musnad Al-Bazzar VIII : 256), Ibnu Adi (Al-Kamil I : 129) dan Abu Nu’aim (Silsilah hadis-hadis shahih IV :38) dari Qurrah bin Ayas. Pada sanandnya terdapat seorang rawi bernama Daud bin Al-Muhabbir. Kata Abu Hatim, “Dzahibul hadits (dia pemalsu hadis).” Kata Ad-Daruquthni, “Matrukul hadits (hadisnya ditinggalkan).” (Tahdzibul Kamal VIII:446-447)
b. Abu Daud (Sunan Abu Daud III:310) dari Ali bin Abu Thalib. Pada sanadnya terdapat rawi bernama Fithr, dia Syi’ah Rafidhah. (Siyaru A’lamin Nubala VIII:31).
c. Ahmad (Musnad al-Imam Ahmad, XVIII:209-210, No. 11.130, XVIII:416, No. 11.313) dan Abu Nu’aim (Hilyatul Aulia, III:101-102) dari Abu said. Pada sanad Ahmad ada rawi bernama Mathar bin Thuhman. Dia Shaduq (jujur), banyak salah (Tahdzibul Kamal XXVIII:54). Sedangkan pada sanad Abu Nu’aim ada rawi bernama Haudzah. Kata Yahya bin Ma’in: “Dia tidak terpuji (dalam periwayatan)” Ditanyakan kepadanya: “Kenapa ?” dia menjawab, “Tidak ada seorangpun yang meriwayatkan hadis-hadis ini sebagaimana yang dia riwayatkan, dan dia juga bisu.” (Tahdzibul Kamal XXX:323).
3. Hadis ketiga dha’if, karena semua sanadnya melalui rawi bernama Yasin al-’ajli. Imam Al-Bukhari berkata, “fihi nazharun (dirinya perlu diteliti), dan saya tidak mengetahui satu hadispun riwayatnya selain ini (Tahdzibul Kamal XXXI:182). Syekh Ibnul Hammam berkata: “Bila Al-Bukhari mengatakan fihi nazharun pada seseorang, maka hadisnya tidak dapat dipakai hujjah, tidak dapat menjadi syahid, dan tidak pantas untuk i’tibar.” (Tuhfatul Ahwadzi III:528).
4. Hadis keempat dha’if, karena pada sanadnya terdapat rawi bernama Muhammad bin Khalid al-Junadi, dia majhul (tidak dikenal) (Ta’liq ala Tahdzibul Kamal XXV:147). Dan Hasan al-Bishri, dia mudallis (pelaku hadis mudallas) (Silsilah Hadis-hadis Dhaif I:103).
5. Hadis kelima dhaif, karena pada sanadnya terdapat rawi bernama muhammad bin
Al-Walid, dia pemalsu hadis (Silsilah Hadis-hadis Dhaif I:108).
6. Hadis keenam dha’if, pada sanadnya terdapat dua orang rawi bernama al-Jayyid bin Nazhief dan Ja’far bin Thariq. Nama keduanya tidak dikenal di kalangan ahli hadis. Dan Al-Jayyid tidak tercatat sebagai murid Abu Nadhrah.
7. Hadis ketujuh dha’if, pada sanadnya terdapat dua orang rawi bernama Imran bin Dawar. Kata Ad-Daruquthni, “Dia sering menyalahi (rawi tsiqat) dan banyak waham.” (Ta’liq Tahdzibul Kamal XXII:330). Dan Sahl bin Tamam, Kata Ibnu Hajar, “Dia shaduq (jujur), (sering) keliru” (Ta’liq Tahdzibul Kamal XII:177).
Selain itu hadis-hadis tentang Imam Mahdi diriwayatkan pula oleh:
1. Ibnu Majah, Abu Nu’aim, dan Al-Bazzar dari Anas bin malik
2. Ahmad, Abu Nu’aim, Abu Ya’la, At-Thabrani, Al-Hakim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dari Abu Said.
3. Ibnu Majah, Abu Nu’aim, dan Ahmad dari Tsauban.
4. Ibnu Majah dan At-Thabrani dari Abdullah bin Al-Harits
5. At-Tirmidzi, Ibnu Hiban, Al-Bazzar, At-Thabrani, Abu Ya’la dan Ad-Daruquthni dari Abu Hurairah.
6. At-Thabrani dan Al-Bazzar dari Qurrah bin Ayas
7. At-Thabrani dari Thalhah bin Ubaidillah
8. Abu Nu’aim dan At-Thabrani dari Ibnu Umar
9. At-Thabrani dari Ummu Habibah
10. Abu Nu’aim dari Hudzaifah
11. Abu Nu’aim dari Abdurrahman bin Auf
12. Abu Nu’aim dan Al-Bazzar dari Jabir
13. Abu Nu’aim dari Abdullah bin Amr
14. Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir dari Al-Husain
15. Ad-Daruquthni dari Muhammad bin Ali
16. Nu’aim bin Hammad dari Amr bin Al-Ash
17. Nu’aim bin Hammad dari Abu Qubail
18. Nu’aim bin Hammad dari Ammar bin Yasir
19. Nu’aim bin Hammad dari Ka’ab
20. Abu Ya’la dari Aisyah
Namun semuanya tidak terlepas dari kedaifan.
B. Matan
Kemudian ditinjau dari segi matan, hadis-hadis tentang al-mahdi simpang-siur, tidak ada keserasian sehingga tidak dapat diambil kesimpulan. Ada yang menyebutkan dia keturunan Fatimah. Ada yang menyebutkan keturunan Al-Abbas paman Nabi. Ada pula yang menyatakan al-Mahdi itu Isa bin Maryam. Lalu tentang masa kekuasaan al-Mahdi, ada yang menerangkan lima tahun, tujuh tahun, sembilan tahun, bahkan ada yang menyebutkan dua puluh tahun.
Berdasarkan tinjauan sanad dan matan tersebu, kami berkesimpulan bahwa hadis-hadis di atas tidak dapat dijadikan hujjah tentang keberadaan Imam Mahdi karena semuanya dha’if. Dalam kitab Asnal Mathalib disebutkan:
??????????? ?????????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ??? ?????????? ???????? ????? ????????? ?????? ????????? ??? ???????????? (???? ??????? ?. 588)
“Hadis-hadis tentang al-Mahdi semuanya dha’if, tidak ada satupun padanya yang bisa dijadikan pegangan (dalil). Dan jangan tertipu oleh orang yang menghimpunnya dalam berbagai kitab.” (Asnal Mathalib, hal. 588).
Kesimpulan:
Berita tentang munculnya Imam Mahdi adalah takhayyul, dan orang yang mempercayainya musyrik.
Kami hanya ingin menyarankan, kritikan dari Ust. Abu Yahya Purwanto untuk Ust. Amin sebaiknya diperhatikan. Ketika memvonis musyrik harus jelas, apakah musyrik akbar atau ashghar. Musyrik akbar berarti kafir, kriterianya khuruj ‘anil-millah. Imam Ibn Katsir yang menyatakan Imam Mahdi ada tidak boleh divonis seperti itu. Musyrik ashghar pun menurut saya tidak pantas, sebab berarti menuduh musyrik kepada Imam Ibn Katsir, Imam Ahmad, al-Albani, dan lain-lainnya.
Kami memang belum meneliti secara langsung hadits-hadits Imam Mahdi seperti halnya Ust. Amin. Tetapi kami juga sudah membaca penelitian Imam al-Albani terkait hadits-hadits tersebut. Kami tidak bisa mengutipkannya di sini. Para pengunjung sekalian bisa merujuknya pada Silsilah haditsnya al-Albani. Kami juga sudah membaca kitab-kitab yang berisi bantahan atas kritik hadits Imam Mahdi. Menurut kitab-kitab tersebut terlalu sembrono menyamaratakan imam mahid versi Ahlus-Sunnah, dengan imam mahdi versi Syi’ah, Ahmadiyah, dan aliran sesat lainnya. JIka ada kesesatan dalam pemahaman imam mahdi di kaum Syi’ah dsb, maka tidak perlu menyesatkan pemahaman imam mahdi menurut Ahlus-Sunnah.
Ringkasnya, ini persoalan ikhtilaf yang bukan masalah sunnah-bid’ah, kufur-islam, jadi para pengunjung sekalian bisa memilihnya. Kami menghargai hasil penelitian Ust. Amin. Tetapi kami tidak akan memusyrikkan Ust. Amin dan yang semadzhab disebabkan penelitiannya sudah dipatahkan oleh al-Albani. Karena memang ini persoalan ikhtilaf yang mubah
Dalam “praktik lapangan” penelitian hadits, kita tidak bisa menutup mata adanya perbedaan penilaian di kalangan para ulama hadits terkait kedudukan suatu hadits. Dalam berbagai tulisan tentang ilmu hadits di situs ini, kami sudah jelaskan sebenarnya ada metode yang bisa ditempuh untuk mencari mana yang paling rajih (kuat). Akan tetapi ini perlu waktu yang panjang, dan dituntut kesabaran.
Insya Allah setelah “beban” studi S3 kami dituntaskan, kami akan mencoba menjalani metode yang biasa ditempuh oleh para ulama hadits. Satu kata saja dalam kaitan masalah ini: “Jangan ada vonis musyrik di antara kita (para peneliti hadits)”
bismillah. Afwan ustadz. . Kritikan ustadz Abu yahya purwanto it bsa saya liat dmana ?
Pernah disampaikan dalam sebuah diskusi umum antara ust amin muchtar dan ust purwanto di masjid al-furqon situaksan bandung pada tahun 2005-an
afwan ust; yang mendhaifkan hadits-hadits imam mahdi ,bukan ust Amin, tp para imam ahli hadits yang lahirnya jauh sebelum syaih Al Bani. dan ust Amin hanya memindahkan jarah para imam ahli hadits terhadap para rawi yang menerangkan keberadaan imam mahdi. untuk kemurnian sebuah hadits, alangkah baiknya kita kaji dulu semua sanadnya, baru bisa memutuskan mana shahih/ dhaif.supaya kita tidak ada unsur taklid kepada salah satu imam.
Sebagaimana kami sebutkan di atas, kami sudah membaca hasil kajian dari dua kubu yang bertentangan. Dan mohon maaf kalau kami memeilih berbeda dengan ustadz Amin. Hanya kami tidak akan menyebut anda atau ust. Amin musyrik. Dan tidak akan menuduh anda dan ust Amin taqlid
Ketika imam malik ditanya oleh seseorang mengenai suatu permasalahan.
wahai imam! saya ada satu masalah, ketika saya tanya kepada ulama A, jawabannya begini, tapi ketika saya tanyakan kepada ulama B, jawabannya begitu. maka bolehkah aku mengambil jawaban dari salah satu ulama tersebut karena saya simpati ke A atau B?
maka imam Malik berkata : tidak, malhaaqa ilal wahid, (kebenaran hanya ada satu) maka carilah kebenaran itu. maaf Referensi kitab, lupa.
ustadz punten bisa di attachment diskusi umum antara ust amin muchtar dan ust purwanto di masjid al-furqon situaksan bandung pada tahun 2005-an, supaya ana bisa mempelajari dgn seksama biar ana lebih yakin walaupun saat ini 100 % Insyaalloh kedudukan hadist mengenai Imam Mahdi kuluha dhaifatun…..hatur nuhun
Benar, haq hanya satu, sebab selain haq adalah dlalal (QS. 10 : 32). Tetapi di dalam haq ada yang shawab dan khatha`. KIta harus pilih yang shawab. Tetapi proses untuk ke sana tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami inginnya menyatakan bahwa pendapat yang meyakini imam mahdi takhayyul dan syirik adalah pendapat yang dlalal. Tetapi kami yakin, pendapat tersebut berada dalam koridor haqq. Paling kalau tidak khatha` adalah shawab. Pendapat kami adalah shawab, tetapi tidak musthail khatha`. Untuk membuktikan mana yang shawab dan khatha` perlu waktu dan kesabaran. Kuncinya: jangan vonis syirik dan taqlid.
Itulah yang terjadi antara Imam Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal. Sederhananya, bisa kita rujuk kitab riyadlus-shalihin bab jenazah. Lalu bandingkan dengan syarah Syaikh ‘Utsaimin terhadap tema yang sama di kitab yang sama. Di sana bukan ada haq dan dlalal/bathil, tetapi ada yang shawab dan khatha`. Dan kita tidak sopan kalau mengatakan imam Nawawi atau Syafi’i musyrik atau taqlid. Na’udzubillah min dzalik
Diskusi di al-furqon tidak membahas Imam Mahdi, tetapi etika ikhtilaf di kalangan para ulama.
punten nih ustdz maksud ana kritikan ustad abu mengenai imam mahdi terhadap ustdz amin, atau penjelasan dari syekh al bani, soalnya banyak hadits2 dhaif yang di shahihkan oleh beliau diantantaranya masbuq dapat ruku imam dianggap 1 rakaat, Rasulallahu SAW shalat sunah dua rakaat ketika masuk dan keluar rumah …….nhn
Akhi Galih benar, banyak sekali hadits2 yang didhaifkan oleh para ulama ahli hadits, justru dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, jadi untuk kemurnian sebuah hadits, maka kita harus meneliti seperti yang dicontohkan oleh para ulama, khususnya kredibelitas para rawi.jangan rawi lemah dianggap shiqah. sebagaimana kasus bedah buku karya ust Aceng Z di indramayu.
Ustadz Abu Yahya tidak mengkritik tentang analisa hadits imam mahdi, tetapi mengkritik tentang adab ikhtilaf di kalangan para ulama.
Pernyataannya harusnya dibalik: Banyak hadits-hadits yang dinilai shahih/hasan oleh para ulama tetapi didla’ifkan oleh al-Albani. Makanya ada kitab Silsilah Ahadits Dla’ifah, Dla’if Sunan Abi Dawud, dan sejenisnya.
Atau pernyataannya dibalik: Ada hadits-hadits shahih yang dinyatakan shahih oleh para ulama, justru didla’ifkan oleh ustadz Amin.
Kami menilai kita jelas jauh dari prinsip “haqq” jika terjebak pada subjektifitas pribadi. Karena berasal dari Albani “kesan”-nya analisa haditsnya pasti salah. Padahal kita belum membacanya. Sebaliknya, karena berasal dari Ust. Amin “kesan”-nya analisa haditsnya pasti benar. Padahal belum mengkomparasikannya. JIka sebaliknya pun tetap tidak benar.
Saran saya: Masing-masing di antara kita tidak memubadzirkan waktu dengan perdebatan ini. Yang terbaik, anda atau kami kembali meneliti. Lalu hasil penelitian anda (bukan ust. Amin) anda tulis dan sampaikan kepada kami. Ketika ada perbedaan, kita sikapi dengan bijak, dan analisa kembali cari yang paling rajih. Jika masih mentok, masing-masing dari kita tawaqquf.
Satu kuncinya: Jangan memvonis musyrik dan taqlid kepada pencari shawab.
Persoalan khalifah al-mahdi bukan persoalan yang urgen dalam Islam. Meskipun masuk persoalan aqidah, ada persoalan aqidah yang lebih penting dari sekedar “mendebatkan” khalifah al-mahdi seperti sedang terjadi ini. Sebab persoalan “al-mahdi” dihadapi dengan tawaqquf pun tidak akan menghancurkan bangunan ajaran Islam. Masih banyaknya masyarakat yang terjebak pada syirik ashghar atau menjelang akbar, syirik modern dalam wujud ajaran pluralisme melalui media, SD, SLTP, SLTA, Pesantren, sampai PT, itu masih memerlukan energi yang berlebih dari sekedar mendebatkan khalifah al-mahdi.
Assalaamu’alaikum.wrwb.
Ana butuh bahasan perihal ghaib. Bagaimana cara mendapatkan buku tsb, atau ustadz punya? Syukron.
Jika yang dimaksud “yu`minuna bil-ghaib” ana sudah bahas secara panjang di bab pertama buku AR-RISALAH. Jika yang dimaksud selain itu. Ana tidak punya.