سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ
“Tepatlah kalian, mendekatlah, dan bergembiralah, karena sesungguhnya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para shahabat bertanya: “Termasuk juga anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, termasuk juga saya, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”
Takhrij Hadits
Hadits di atas diriwayatkan dalam kitab berikut ini:
- Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal no. 6463, 6464, 6467.
- Shahih Muslim kitab shifat al-qiyamah wal-jannah wan-nar bab lan yadkhula ahadun al-jannah bi ‘amalihi no. 7289-7302.
- Sunan Ibn Majah kitab az-zuhd bab at-tawaqqi ‘alal-’amal no. 4201.
- Musnad Ahmad bab hadits Abu Hurairah no. 8233, 9830, 10011, 14944; bab hadits ‘Aisyah no. 24985, 26386
Matan Hadits
Dalam riwayat al-Bukhari no. 6463, tuntunan Nabi saw terkait hadits di atas ada enam, yaitu:
لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا
“Amal tidak akan bisa menyelamatkan seseorang di antara kalian.” Mereka bertanya: “Tidak pula anda wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab: “Ya, saya pun tidak, kecuali Allah menganugerahkan rahmat kepadaku. Tepatlah kalian, mendekatlah, beribadahlah di waktu pagi, sore, dan sedikit dari malam, beramallah yang pertengahan, yang pertengahan, kalian pasti akan sampai.”
Dalam riwayat al-Bukhari yang satunya lagi, no. 6464, Nabi saw di akhir pesannya menyatakan:
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Tepatlah kalian, mendekatlah, dan ketahuilah bahwasanya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga. Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah itu adalah yang paling sering diamalkan walaupun sedikit.
Sementara itu, dalam riwayat Muslim no. 7299, tidak hanya disebut tidak akan masuk surga saja, melainkan ditegaskan juga tidak akan selamat dari neraka:
لاَ يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلاَ يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ وَلاَ أَنَا إِلاَّ بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ
Amal tidak akan memasukkan seseorang di antara kalian ke surga dan tidak pula menyelamatkannya dari neraka. Demikian juga saya, kecuali dengan rahmat Allah swt.
Syarah Mufradat
Saddidu, asal katanya sadad; ketepatan, sesuatu yang tepat. Maknanya menurut Ibn Hajar, shawab; benar. Artinya, beramallah dengan tepat, benar, mengikuti sunnah dan penuh keikhlasan.
Qaribu yang bermakna ‘mendekatlah’ maknanya ada dua; pertama, jangan menjauhi amal seluruhnya ketika tidak mampu, dan kedua, jangan berlebihan dalam beramal sehingga merasa kelelahan dan bosan. Itu berarti ambillah pertengahan dalam beramal. Ketika malas tiba, bertahan dengan tidak meninggalkan amal seluruhnya, beramallah sedekat-dekatnya, tidak mampu 100% (sadad) beramallah 90% (qarib), dan ketika semangat tiba, beramal dengan tidak berlebihan karena akan menyebabkan kelelahan dan kejenuhan.
Ughdu artinya berpergianlah di waktu pagi, ruhu artinya berpergianlah di waktu sore, dan ad-duljah artinya berpergian di waktu malam. Kata ad-duljah disertai dengan kata syai` (syai` minad-duljah; sedikit/sesaat di waktu malam) karena memang berpergian di waktu malam cukup sulit. Menurut Ibn Hajar, ini seolah-olah isyarat agar shaum di sepanjang hari dari sejak pagi sampai sore, dan shalat tahajjud di sebagian malam. Walaupun, menurutnya, bisa juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya. Ibadah dalam hal ini diibaratkan dengan berpergian/perjalanan karena memang seorang ‘abid (yang beribadah) itu ibarat seseorang yang sedang berpergian dan menempuh perjalanan menuju surga.
Al-qashda maknanya pertengahan. Dijelaskan dalam riwayat lain sebagai amal yang rutin dikerjakan (dawam) walaupun sedikit-sedikit.
Taghammada diambil dari kata ghimd yang berarti sarung pedang. Taghammada berarti menyarungkan, atau dengan kata lain menutup (satr). Jika dilekatkan dengan kata rahmat dan ampunan, berarti menganugerahkan sepenuhnya (semua penjelasan dalam syarah mufradat ini disadur dari Fath al-Bari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal).
Syarah Ijmali
Muncul diskusi di kalangan para ulama terkait hadits di atas; benarkah masuk surga itu bukan karena amal? Jika demikian apa gunanya amal kita? Bagaimana pula kaitannya dengan firman-firman Allah swt berikut:
“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu amalkan”. (QS. An-Nahl [16] : 32)
Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7] : 43. Ayat semisal terdapat juga dalam QS. Az-Zukhruf [43] : 72)
Satu hal saja yang harus dicatat, semua ulama hadits tidak ada yang menyatakan bahwa hadits di atas bertentangan dengan ayat-ayat tersebut. Semuanya menempuh metode jam’ (menyatukan, mengompromikan) karena memang hadits di atas jelas keshahihannya. Sebuah pertanda juga bahwa hadits yang shahih haram ditolak meskipun tampaknya bertentangan dengan al-Qur`an. Sedapat mungkin carikan komprominya, karena tidak mungkin Nabi saw menentang al-Qur`an. Dan itulah yang ditempuh oleh para ulama hadits sebagaimana akan diuraikan berikut ini.
Imam Ibn Bathal, sebagaimana dikutip Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, menjelaskan bahwa surga itu ada beberapa tingkatan. Ayat-ayat yang menjelaskan masuk surga karena amal, itu maksudnya adalah menempati tingkatan-tingkatannya itu. Sementara masuk surganya sendiri, itu mutlak hanya berdasarkan rahmat Allah swt. Jadi, dengan rahmat Allah swt, seseorang ditentukan masuk surga dan tidaknya. Sesudah ada keputusan masuk surga, maka ketentuan masuk surga tingkatan yang mananya itu ditentukan berdasarkan amal.
Selanjutnya, Ibn Bathal menjelaskan, bisa juga maksud dari ayat-ayat dan hadits di atas adalah saling menguatkan. Artinya, masuk surga itu tergantung rahmat Allah swt juga amal-amal kita. Demikian juga, penentuan tingkatan yang mananya di dalam surga itu tergantung rahmat Allah swt dan amal-amal kita.
Imam al-Karmani, Jamaluddin ibn as-Syaikh, dan Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa huruf ‘ba’ pada ayat-ayat di atas bukan bermakna sebab (sababiyyah), melainkan bersamaan (ilshaq, mushahabah). Jadi bukan berarti masuk surga itu dengan sebab amal, melainkan masuk surga itu bersamaan adanya amal, karena sebab yang paling utamanya adalah rahmat Allah swt. Ini berarti bisa membantah pendapat Jabariyyah yang menyatakan bahwa masuk surga itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan amal, melainkan mutlak hanya rahmat Allah swt saja. Juga membantah pendapat Qadariyyah yang menyatakan bahwa masuk surga itu murni karena amal saja, tidak ada kaitannya dengan rahmat Allah swt.
Imam Ibn Hajar memberikan penjelasan yang sedikit berbeda. Amal seseorang walau bagaimanapun tidak mungkin menyebabkannya masuk surga jika pada kenyataannya amal itu tidak diterima oleh Allah swt. Nah, persoalan amal itu diterima atau tidaknya, ini jelas wewenang Allah swt, dan ini mutlak berdasarkan rahmat Allah swt (semua pendapat ulama di atas dikutip dari Fath al-Bari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal).
Sementara itu, jawaban yang cukup panjang dapat ditemukan juga dalam salah satu risalah (tulisan ringkas) Imam Ibn Taimiyyah yang dikodifikasikan dan diedit ulang oleh Syaikh Muhammad Rasyad Salim dalam Jami’ur-Rasa`il, dalam risalah no. 9 berjudul risalah fi dukhulil-jannah hal yadkhulu ahadun al-jannah bi amalihi am yanqudluhu qauluhu saw la yadkhulu ahadun al-jannah bi ‘amalihi; risalah tentang masuk surga, apakah seseorang masuk surga itu disebabkan amalnya, ataukah terbantahkan dengan sabda Nabi saw seseorang tidak masuk surga dengan sebab amalnya. Hal pertama yang ditekankan oleh Ibn Taimiyyah adalah tidak mungkin hadits Nabi saw yang shahih bertentangan dengan al-Qur`an. Selanjutnya, Ibn Taimiyyah juga menyatakan, huruf ‘ba’ yang ada dalam hadits dan ayat di atas, kedua-duanya memang menyatakan sebab. Hanya tentunya, menurut beliau, ketika sesuatu dinyatakan sebagai sebab, bukan berarti bahwa sebab tersebut adalah satu-satunya sebab dengan meniadakan yang lainnya. Contoh sederhananya adalah air hujan yang dinyatakan sebagai sebab tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di bumi (QS. Al-Baqarah [2] : 164 dan QS. Al-A’raf [7] : 57). Tentu yang dimaksud bukan hanya air hujan saja yang dapat menyebabkan tumbuh-tumbuhan itu tumbuh, melainkan juga ada sebab lainnya seperti angin, tanah, sinar matahari, yang kesemuanya itu sangat tergantung pada rahmat dan anugerah dari Allah swt.
Hadits yang disampaikan Nabi saw di atas, menurut Ibn Taimiyyah, mengajarkan kepada kita untuk tidak memahami hubungan amal dan surga sebagai mu’awadlah; timbal balik, balas jasa, atau ganti rugi. Hal itu disebabkan pertama, Allah swt sama sekali tidak butuh terhadap amal kita, tidak seperti halnya seorang majikan yang butuh kepada para pekerjanya. Amal manusia untuk manusia sendiri, karena kalaupun semua manusia tidak beramal Allah swt tidak ‘peduli’, Dia akan tetap sebagai Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa (Lihat QS. Al-Baqarah [2] : 286, Fushshilat [41] : 46, an-Naml [27] : 40).
Kedua, amal seorang manusia tidak diwujudkan oleh dirinya sendiri, melainkan berkat anugerah dan rahmat Allah swt juga, mulai dari menghidupkannya, memberi rizki, memberi tenaga, kesehatan, mengutus rasul-rasul, menurunkan kitab-kitab, menjadikannya cinta kepada keimanan dan menjadikannya benci terhadap kekufuran. Semua itu adalah berkat rahmat Allah swt.
Ketiga, amal seorang manusia setinggi-tingginya tidak akan senilai dengan pahala yang diberikan Allah kepadanya, karena dalam pahala itu Allah swt sudah melipatgandakannya dari mulai 10 kali lipat, 700 kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang tidak dapat terhitung nilainya.
Keempat, nikmat dan kesenangan yang telah diberikan Allah swt kepada manusia selama di dunia, walau bagaimanapun tidak akan mampu dibayar oleh manusia. Seandainya manusia diharuskan membayarnya dengan amal, pasti mereka tidak akan mampu beramal untuk membayarnya. Padahal jelas, manusia bisa beramal itu berkat nikmat-nikmat Allah swt tersebut.
Kelima, manusia selalu diliputi oleh dosa dan kesalahan. Seandainya saja tidak ada ampunan Allah swt dan kebijaksanaan-Nya untuk hanya mempertimbangkan amal-amal yang baik saja, dengan mengenyampingkan amal jeleknya, tentu manusia tidak akan mungkin masuk ke dalam surga (Lihat QS. Az-Zumar [39] : 33-35, al-Ahqaf [46] : 16). Inilah di antara maksud sabda Nabi saw: “Ya, termasuk juga saya, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”
Dari uraian panjang ini bisa ditarik kesimpulan bahwa amal tetap sebagai penyebab adanya balasan surga. Hanya berdasarkan hadits ini seseorang tidak boleh ta’ajjub (berbangga diri) dengan amalnya sendiri, karena di sana pasti ada peran rahmat Allah swt. Dengan hadits ini juga seseorang tidak perlu takalluf (mempersulit diri) dengan amal-amal yang dikerjakannya. Tetap optimis dengan amal-amal yang sudah, sedang dan harus dikerjakan, sebagaimana tuntunan Nabi saw: saddidu, wa qaribu, wa absyiru, wa-ghdu, wa ruhu, wa syai`un minad-duljah, wal-qashda wal-qashda, semuanya itu pasti akan menyebabkan kita tablughu; sampai pada cita-cita yang diidamkan (surga).














Assalamu’alaikum wr wb
Kualifikasi masuksyurga menurut ayat2 ALLAH adalah sebagai berikut;
ALLAH berfirman:
1.“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.“ (QS 82: 13).
2.”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga firdaus menjadi tempat tinggalnya.” (QS18: 107).
3.”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka surga penuh kenikmatan-kenikmatan.(QS 31: 8).
4.”Sesungguhnya orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”(QS 98: 7).
5. “….kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”(QS 26: 89).
“Barang siapa menghadap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS 18: 110).
Dari ayat2 diatas itu jelaslah bagi kita bahwa beriman saja tanpa ada amal2 nyata atau perbuatan2 baik di dunia, tidak bisa masuk syurga.
Kalau ada hadist yang mengatakan masyuk syurga tanma amal,maka hadist itu bertentangan dgn al quran arti fatal salah.
BAGAIMANA MENETUKAN SEORANG MUSLIM YG SUKSES ITU?
https://docs.google.com/document/d/1mXCG21IG-4QcuPZwGtojKRnb-gI7L4uLCSNpj9AX_fI/edit?hl=en&authkey=CMnb8eEP
Anda sebaiknya membaca lagi tulisan kajian hadits di atas dengan seksama. Hadits di atas sama sekali tidak bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur`an yang anda bawakan. Buktinya Rasul saw pun dari hadits di atas menyuruh kita beramal. Terlalu ceroboh sekali jika kita menilai Nabi saw menentang al-Qur`an. Itu mustahil. Hadits shahih itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang cerdas, shalih (tsiqat), dari sejak shahabat sampai tai’ tabi’in dan rwai sesudahnya. Bodoh sekali para shahabat kalau tahu hadits itu salah tapi kok diriwayatkan. Bodoh sekali Imam Bukhari, Muslim dan yang lainnya kalau sudah tahu hadits itu salah dan dla’if tapi malah diriwayatkan.
Tiada seorang pun yang bisa membuktikan sebuah Hadits itu adalah ucapan atau perbuatan Rasulullah saw
Semua atas dasar duga duga, dan tidak bisa dibuktikan dgn ilmiyah apapun.
Salah satu jalan untuk membuktikan sebuah Hadits adalah dgn memf-FILTER dgn ayat2 ALLAH.
Kalau bertentangan maka Hadits itu fatal,berbahaya dan palsu. Siapa2 yang menyampaikan hadist2 palsu akan di kutuk oleh ALLAH.
Sebelum menyampaikan Hadist2 sebaiknya anda sendiri memfilter dgn al Quran,.
Kalau anda serahkan saja kpd sanad2 atau imam2 Muslim dan Bukhari anda jatuh dosa Syirik….karena percaya kpd manusia sebagai AQIDAH .
Persoaln yg mendasar adalah waktu setelah imam2 wafat sampai hari ini, apakah tidak ada kemungkinan akan dipalsukan oleh orang2 jahat kpd Islam?
ALLAH tidak memberikan jaminan kpd kitab2 selain Al Quran,
Nasehat saya kpd semua pendakwah2 Islam, kalau ingin memakai hadits seharusnyalah memfilter Hadist itu dgn al Quran.
Jangan sekali kali percaya bahwa kitab2 Hadist Musim dan bukhari itu adalah hadist2 sahih. Pendapat seperti itu salah sekali dan mudah tertipu dgn hadits2 palsu.
salam
Orang yang tidak mengakui keabsahan hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim itulah yang menduga-duga tidak mempunyai landasan ilmiah. Pemikiran semacam ini disebut oleh Mushthafa as-Siba’i dan Yusuf al-Qaradlawi sebagai pemikiran inkar sunnah, disebabkan kebodohan yang kentara akan ilmu hadits.
“Memfiter hadits dengan ayat Allah itu” hanya dalih belaka. Sebab buktinya ia memfilter bukan dengan ayat Allah, tapi dengan akalnya tentang ayat Allah tersebut. Orang seperti ini sok tahu dan merasa lebih pintar daripada Imam as-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan sejumlah imam-imam lainnya. Jadi semua orang tinggal memilih, mau pendapat orang yang sok tahu, atau jalannya para imam yang terbukti keilmuannya.
mengikuti pendapat yang merasa dirinya lebih tahu daripada para ulama hadits jelas mengikuti hawa nafsu, menyembah hawa nafsu, dan ini sebuah sikap syirik yang nyata.
Salah sekali memahami bahwa hadits ada pada zaman Imam Bukhari. Hadits sudah ada dan diseleksi dari sejak zaman shahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, baru dibukukan pada zaman Imam Bukhari dan selanjutnya. Kalau ada pertanyaan mungkinkah dipalsukan? Mungkin. Tapi lebih mungkin juga dilindungi yang aslinya dan dipisahkan dari yang palsu. itu sebabnya ada hadits shahih dan dla’if.
Alllah memberikan jaminan akan ada segolongan dari umat ini yang menegakkan agama dan membelanya dari para pemalsu. Mereka ini menurut Imam Ahmad adalah para ulama hadits, karena mereka membersihkan hadits dari kepalsuan. Maka dari itu hadits shahih dari Nabi saw jelas dijamin oleh Allah swt, di samping al-Qur`an.
Nasehat kami kepada para pendakwah Islam, jangan terperdaya oleh pemikiran inkar sunnah yang merasa diri lebih tahu daripada para ulama hadits. Mereka adalah orang-orang yang bodoh, dan semoga Allah memberikan anugerah ilmu kepada mereka, agar mereka segera bertaubat.
Salam
Kembali kepada TOPIK.
Tiada satu ayat pun saya temukan bahwa orang2 Islam akan masuk syurga.
karena untukmenjadi islam seseorang itu sangat mudah sekali.
Sedangkan utk masyuk syurga itu sulit sekali..melewati jalan yang sempit.dan mudah jatuh..
Yang benar2 dijamin masuk syurga dlm ayat2 ALLAH adalah muslim bertingkat TAQWA.
Muslim tingkat taqwa ini juga tidak sulit ,harus berjuang dan bekerja keras serta berilmu yang luas.
Juga saya tidak menemukan ayat2 ALLAH bahwa orang2 islam itu masuk Syurga atas RAHMAT ALLAH…
Jadi Hadist itu bertentangan dgn ayat2 ALLAH dyang telah saya sampaikan.
CIri muslim Betaqwa,
https://docs.google.com/document/d/1iqndejUCu1Bj5azNGNiD8UCuYG-d0dfi03EHG0vaKTQ/edit?hl=en&authkey=CPL735wH
Semoga bermanfaat
Pertanyaan saya kpd anda.
Apakah ada jaminan kitab2 Hadits Muslim dan Bukhari itu adalah hadist2 Sahih.
Untuk bisa hadist2 itu kridibilitasnya, harus ada tanda tangan dari imam2 Muslim dan Bukhari agar tidak bisa di palsukan oleh orang2 setelah beliau wafat.
Kedua setiap peraturan2 itu harus jelas dan mudah di mengerti oleh setiap pembaca,agar tidak salah mengerti.
Kalau sebuah peraturan2 mempunyai banyak makna,maka pembaca akan bingung dan salah menjalankannya ,biasnya peraturan seperti ditarik dari umum karena akan menyesatkan pembaca.begitu bukan?
Saya bukan seorang ANTI HADITS, bagi saya hadist2 itu sangat menolong menghayati wahyu2 ALLAH yang kurabg jelas atau ayat2 Mutashabihat dll.
Namun saya tidak mempercayai bahwa hadist2 di kitab2 hadits Muslim danbukhari itu adalah semua shaih,walaun ulama2 mengatakan demikian.
aqidah saya tidak tergantung kpd manusia, bisa saya jatuh dosa syirik dan tersesatkan oleh ulama2 yang bukan nabi.
Demikian,semoga bermanfaat.
salam
Ayat-ayat yang menjelaskan orang Islam akan masuk surga, ada, banyak. Meskipun tingkatan mereka tidak taqwa seratus persen. Contohnya QS. 2 : 62. Contoh lainnya, dalam QS. al-Waqi’ah [56] disebutkan ada dua golongan yang masuk surga, ashabul yamin dan al-muqarrabun. Penjelasannya ya ada di hadits Nabi saw. Di antaranya ada dalam hadits yang dibahas di atas. Hal ini sungguh sangat jelas untuk dipahami, kecuali bagi orang yang terlalu berburu-buru menyimpulkan berdasarkan ilmunya yang dangkal. Ciri ilmu yang dangkal itu tidak mengakui otoritas ilmu para ulama. Ibarat seorang mahasiswa yang membuat skripsi tetapi tidak mau menggunakan teori yang sudah baku dari para pakarnya. Dijamin, skripsinya tidak bakal lulus, sebab dia sudah sok tahu, dan tidak ilmiah.
Permasalahan diskusi kita kembali pada kedudukan “otoritas Nabi saw”. Jika anda beriman kepada Nabi saw, maka anda juga harus mengakui otoritasnya. Di dalam berbagai ayat disebutkan (contoh QS. 59 : 7 dan ayat-ayat yang menyruh kita taat sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya) bahwa Nabi saw punya otoritas untuk menjelaskan, menambah pengertian dan hukum baru, sebab itu tidak mungkin dibuat Nabi saw dari hawa nafsunya, itu juga wahyu (QS. 53 : 3-4, juga ayat-ayat yang menjelaskan Nabi saw menerima kitab dan hikmah. Hikmah itu wahyu juga). Kalau Nabi saw menyampaikan sesuatu yang menurut anda bertentangan dengan al-Qur`an, ya itu menurut anda saja, sebab menurut para ulama, shahabat, tabi’in, itu tidak bertentangan, hanya menambah informasi saja, bahwa masuk surga itu bukan dengan amal saja, tetapi juga dengan rahmat Allah swt. Bukan dengan rahmat Allah swt saja, tapi juga dengan amal. Ini adalah permasalahan yang terlalu jelas untuk ditolak. Jadi aneh kalau masih dipandang bertentangan. Mungkin anda harus baca lagi baik-baik penjelasan dari para ulama yang otoritatif di atas. Agar anda tidak syirik kepada pendapat anda pribadi, syirik kepada hawa nafsu anda pribadi.
Anda harus bisa membedakan antara ilmu dan hawa nafsu. Orang yang menolak ilmu disebut oleh Allah swt sebagai orang bodoh. Jadi anda terlalu tidak bijak jika ada orang yang mengikuti ilmu (di antaranya menilai bahwa Shahih BUkhari dan Muslim haditsnya shahih, termasuk hadit di atas, dan tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur`an) tapi anda sebut mengikuti orang. Ilmu itu memang ada pada orang. Sebaiknya anda belajar lagi apa itu ilmu. Khususnya apa ilmu hadits.
Semua asumsi anda yang menyebutkan bahwa hadits harus terbukti shahih jika ada tanda tangan, itu logika anda. Bukankah tanda tangan juga bisa dipalsukan. Bagaimana caranya (kalau memang ada tanda tangannya) bahwa tanda tangan yang sampai kepada kita itu tanda tangan Bukhari. Ya sulit juga lah. Sudah benar bahwa keshahihan suatu hadits itu ditentukan oleh kecerdasan dan integritas yang anda sebut: TAQWA. Jika anda menolak keshahihan suatu hadits yang jelas-jelas shahih, sama artinya anda menuduh dusta kepada orang-orang yang bertaqwa lagi teruji kecerdasannya. Anda tidak perlu bertanya lagi bagaimana membuktikan ketaqwaan dan kecerdasannya. Pelajari saja ilmu hadits dengan benar. Kalau anda betul-betul terdesak, datangi saya, nanti saya tunjukkan tempat-tempat yang bisa membuat anda menghargai ilmu hadits.
Dari sejak awal memang tidak ada yang divonis inkar sunnah oleh Imam Syafi’i, Ahmad dan lainnya yang merasa bahwa dia inkar sunnah. Sebab vonis itu bukan ditentukan oleh pengakuan, tapi oleh fakta pemikiran. Toh Iblis saja tetap tidak ngaku salah ketika disalahkan oleh Allah swt.
Saran saya sahabat: Hargai ilmu hadits, pelajari lagi ilmu hadits dengan benar, agar anda tidak termasuk orang yang bodoh.
Terima kasih sahabat, maaf kalau ada bahasa yang agak lancang
Terimakasih kembali semoga sharing ilmu antara kita ini ada manfaatnya asalkan kita tetap istiqamah dlm berdiskui yang santun dan islami dlm persaudaran Islam.
DALAM MENGIKTI RASUL ATAU SUNNAH.
Ada 4 kompok umat Ilsam.
1.klompok Islam yang mengikuti semua yang dikerjakan dan diucapkan oleh Rasul adalah Syariat Islam. Seperti laki2 wajib beerjabang dan berjenggot.
2. klompok2 Islam yang progressive yaitu mengikuti sunnah Rasul yang hanya menjelaskan wahyu2 ALLAH dari kitab2 ALLAH sebelumnya.
Seperti hadits bersunnat datang dari Taurat.
3.klompok2 Islam anti hadits,klompok2 ini benar2 tidak percaya kpd Hadist2
4. klompok2 Islam Syiah,hadist2 yang shaih hanya yangdikumpulkan oleh keluarga rasul dll
Kami termasuk klompok Islam progressive
Tidak mengakui sunnah Rasul yang berkenaan dgn budaya Arab.
Kami hanya mengakui Syariat Islam yang bersumber dari ALLAH yaitu Kitab2Nya dan hadist2 yg hanya menjelaskan wahyu2 ALLAH saja.
Semoga bermanfaat.
Monggo
abdullatif
Pembagian kelompok menurut siapa? Apakah anda seorang doktor yang pengelompokan anda ini ada dalam disertasi anda dan sudah diuji oleh para profesor? Kalau tidak meaaf kalau saya nilai pengelompokan itu ngawur.
Sebab menurut Dr. Yusuf Qaradlawi, Mushthafa as-Siba’i–yang maaf saja ilmunya lebih terpercaya daripada anda–kelompok Islam progresif seperti anda itu termasuk inkar sunnah level 2. Level 1 nya yang anda masukkan ke kelompok 3. Menurut Qaradlawi, penolakan terburu-buru terhadap hadits shahih adalah sebuah sikap kebodohan (urairan rincinya sudah saya tulis di atas) kentara yang masuk kategori virus inkar sunnah.
Maaf hanya mengingatkan
Banyak paraktivitas2 Islam Indonesia terperangkap dgn nama2 seseorang dari Timur tengah atau Arab. ketahuilah bahwa Islam itu bukanlah Arab, dan orang2 Arab itu bukanlah contoh Islam yang baik.
ALLAH memperingatkan bahwa banyak orang2 Arab itu yang munafik semenjak Rasulullulah saw. ALLAH berfirman;
“Di antara orang-orang Arab yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik dan di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS.At Taubah 9:101).
Dengan sebuah pemeritahuan dari ALLAH diatas itu,kita harus sangat BERHATI2 dgn ulama2 Arab….jangan tertipu dengan BAJUNYA BAHASANYA, SORBANNYA, HAFAL ALQURAN DAN HADIST2 dansebagainya.
TAPI lihatlah perbuatan2 nyata mereka dilapangan. Kita lihat dgn pengamalan2 dan tafsiran2 ayat2 ALLAH dan hadist2 ternyata umatnya Islam Arab adalah terbelakang sekali dari technologi dan ekonomi. Semua technologi yang dipakai di negara2 Arab adalah dari orang2 barat semunya.
ternyata sampai hari inbi,kita ribuan melihat,memakai produk2 dari Barat dan japan,Korean dan China.
Sampai hari ini hanya BUAH KORMA yang bsia kita lihat di supermarket2.
KIta ketahui bahwa ajaran2 Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad saw adalah Islam yang dapat membawa kemajuan2 kpd pengikut2nya begitu bukan?
Jadi jangan kita terpersona dgn TAFSIRAN2 DAN PENGAMALAN2 dari ulama2 Arab itu.
Ulama2 Arab cara menafsirkan ayat2 ALLAH dan hadist2 pada umumnya terpengaruh dengan kondisi alamnya dan kondisi masakatanya yang masih miskian dan Buta huruf.
Sekarang saudi mengirimkan pemuda2nya ke Amerika lebih kurang 10.000 tahunl 2009. Mereka akan belajar dr Amerika bagaimana membangun masarakat yang rahmatan lil’alamin masarakat yang; DAMAI–MAJU–SEJAHTERA—DAN KARYA2 MARFAAT UNTUK MANUSIA BANYAK.
KESIMPULAN;
PROF DR QURAISH SHIHAB bernasehat dlm kitabnya ;mari kita kali kembali rahasia2 ALLAH yang terdapat dlm Al quran dan hadist sesuai dengan perkembangan ilmu technologi dan ilmu2 social lai2nya.
Prof.DR Q,Shihab ahli tafir Indonesia yg terkenal, memperbaharui TAFSIRAN
Anda mungkin berpikir terlalu rasialis. Menilai seseorang yang mengikuti pendapat ulama karena Arabnya. Anda tidak jauh berbeda dengan muslim lainnya yang mengharamkan mengikuti pemikiran Barat karena orang Baratnya. Kami kira pemikiran seperti ini harus dibuang jauh-jauh.
Kita harus melihat ilmunya bukan orangnya. Di setiap ilmu ada tokoh toritatif. Apakah jika dalam filsafat orang-orang merujuk pada Aristoteles itu artinya berpikir picik? Apakah orang yang mengikuti Enstein, Phytagoras, dan ilmuwan lainnya, akan anda nilai bodoh? Kami kira anda sebaiknya kembali mengkaji filsafat ilmu dengan benar.
Penilian anda yang menilai kami mengikuti Arabnya, dengan membawa sederet dalil tentnag kejelekan Arab menunjukkan bahwa anda Arabphobia, berarti anda sudah tidak mungkin lagi berdiskusi dengan ilmiah. Anda jangan lupa pujian-pujian yang ditujukan oleh Allah kepada para shahabat NAbi saw, mujahidid, muhajirin, Anshar, mereka semua orag Arab. Jadi jangan dikutip sepenggal-sepenggal dengan hanya mengutip ayat al-Qur`an yang mengkritik Arab tapi yang ditujukan kepada munafiq dan kafirnya.
Tentang Pa Quraish Shihab, anda jangan lupa beliau keturunan Arab. Tetapi pemikirannya anda sokong juga. Itu pasti sebab ilmunya. Lalu kenapa anda dengan mudah saja merendahkan Imam Syafi’i, Hanbali, Abu Hanifah, dan ulama-ulama lainnya yang otoritas ilmunya sudah teruji? Di sinilah letak ketidakilmiahan pendapat anda.
Anda silahkan baca pengantar Quraish Shihab pada buku “Kontroversi Pemikiran Hadits” yang ditulis M. Ghazali. Pa Quraish tidak setuju jika hadits didikotomikan secara serampangan antara ahli hadits dan ahli fiqh. Menurut pa Quraish ahli hadits ya ahli fiqh juga, Ahli fiqh ya ahli hadits juga. Artinya salah jika menilai bahwa para ulama hadits tidak bisa mengkaji kritis hadits yang diriwayatkannya dengan pendekatan fiqh atau al-Qur`an.
Kasus jilbab dan penafsiran budak tidak harus menempatkan Quraish Shihab seperti anda yang menolak hadits shahih dengan ra`yu anda (bukan al-Qur`an, tapi ra`yu anda, sebab ulama-ulama hadits yang ngerti al-Qur`an juga tidak menolaknya seperti anda). Lihat juga dong penafsirannya tentang kesurupan dalam al-Mishbah QS. 2 : 275. Beliau sependapat dengan ulama hadits tentang adanya kesurupan. Tidak seperti M. Ghazali yang mengkritisinya. Saya setiap pagi sejak setahun yang lalu selalu membaca Tafsir al-Mishbah. Dari surat al-Fatihah sampai surat al-An’am sudah saya baca. Banyak sekali penafsiran beliau yang merujuk hadits.
Hanya satu memang yang berbeda dari jumhur dari penafsiran Quraish Shihab (sepanjang pembacaan kami), yakni jilbab. Dan itu bukan dengan metode mengkritisi/menolak hadits dengan ra`yu, tapi lebih bagaimana pada menempatkan hadits-hadits shahih yang ada. Jadi beda dengan meode yang anda anut dan mengklaim sebagai Islam Progresif, dan sudah dinyatakan terinfeksi inkar sunnah oleh Yusuf Qaradlawi. Terhadap kasus seperti ini maka kita harus mengkritisi Quraish Shihab secara ilmiah, jangan turut membabi buta begitu saja. Itu pun kalau kita hendak mendasarkan pemikiran kita pada filsafat ilmu yang benar
Percuma ngeladenin alatif. Ilmunya kurang, lagaknya sok pinter. Analogi: alatif menerangkan teori gaya, tapi bukan pakar fisika, nggak pernah belajar, cuman gatuk2in dari rumus.
Kita layak mengasihani kakek tua ini. Semakin berumur seseorang, maka semakin kokoh imannya, keilmuannya, ketakwaannya, ibadahnya. Kebalikan dgn alatif, di usianya yg senja GeeR menganggap dirinya seorang muhaddist hanya dgn memfilter ayat2 Al Qur’an menggunakan komputer, kemudian melakukan penafsiran sendiri dari terjemahan (dia tidak paham bahasa arab).
FYI, dia selalu dibanned di forum2 diskusi. Namun karena kebodohannya dia berkata: forum tidak bisa menerima kritikan2, perbedaan pendapat, arab sentris. Padahal, kenyataannya dia dibanned karena kebodohannya …
ijin copas ya, mas.
Ingat Syetan dan iblis itu bisa masuk kemanasaja dan siapa saja, hal yang paling berbahaya di dunia adalah oRang yang tidak bisa menguasai dirinya. kebaikan kebenara bagaimanapun yang dibawa kalau dengan terpancing dan tidak bisa menguasai dri dengan baik bahkan terjebak didalam kalimat2-syariat maknawi saja. barometer keridhoan allah tidak bisa di huuingkan dengan orang yang tau banyak tp bisa berbuat banyak.
Kawan-kawan se iman yaang baik, kita bersama mempunyai tujuan mendapatkan rhido allah SWT, bukan menganggap drinya paling benar bahkan diatas langit masih ada langit. Hal yang harus kita hindari ialah menganggap drinya paling benar. ayo kita bersama2 berlomba menrapkan kebaikan, baik dalam berfikir, berucap, bertindak, dan berperasangka.
lakukan hal yang benar dengan cara yang benar.
dlm musyawarah ad mufakat
inilah yg sering kt lwatkan
mendingan dr yg pinter2 itu kita stukan pendapat kita spy sily lbih baek
kalo aku cman orang bodoh y mksh buwat pngtauanku adj smg kt semua dpat rahmat DR ALLAH SWT AMIEN
Sesungguhnya Hadits di atas sama sekali tidak bertentangan dengan Al Qur’an. Yang saya rasakan dari Hadits tersebut adalah ajaran tentang totalitas Tauhid. Apapun yang kita lakukan haruslah dilakukan karena Allah. Menjadikan Allah adalah segala – galanya dalam setiap gerak kehidupan kita, hingga Sang Rasul SAW menyatakan bahwa amal tidak akan memasukkan kita ke dalam surga kecuali Allah memberikan Ampunan dan Rahmat Nya kepada kita. Bahasa Rasulullah Muhammad SAW adalah bahasa ruang, bahasa Tauhid, bukan bahasa garis.
Berdakwah adalah kewajiban bagi seluruh muslim/muslimat namun hendaklah berhati-hati jika kita sedang memberikan dakwah atau informasi tentang agama kita mafhum semuanya harus bersandar pada Qur’an dan Assunah. Namun sangat disayangkan terhadap tulisan saudara, hakul yakin banyak diantara saudara-saudara kita yang menjadi bingung dengan tulisan ini, mestinya saudara harus bijak dan utuh dalam menyampaikan suatu hadist. Saya melihat dalam teks hadits yg saudara tulis hanya bermodal tulisan arab saja tanpa dirunut dari siapa sanadnya sehingga terkesan teksbook dan hanya menyontek isinya tanpa menjelaskan seperti apa substansinya, terus terang saaya justru jadi suudzon ada tujuan apa dibalik tulisan ini, apakah saudara sedang mengikuti cara SnookHorgronge dalam mengaburkan permasalahan agama, subhanallah maka banyak-banyaklah beristighfar kepada Allah
Ila Suwarto:
Menurut kami pernyataan saudara suwarto ini belum jelas ditujukan kepada siapanya. Hanya jika itu ditujukan kepada kami, izinkan kami memberikan tanggapan balik sebagai berikut:
Pertama, sebuah sikap yang tidak berakhlaq jika kita menuduh jelek kepada satu pihak sebelum kita membaca dan menyimak “pihak tertuduh” tersebut secara seksama. QS. Yunus [10] : 39 menyitir sikap tersebut sebagai sikap orang kafir Jahiliyyah. Tentunya kita sebagai muslim wajib menjauhinya.
Kedua, sesuatu dinilai tepat berdasarkan al-Qur`an dan Sunnah itu adalah jika ia mendasarkan pendapatnya pada al-Qur`an dan Sunnah, dengan metode keilmuan al-Qur`an dan Sunnah yang sudah diajarkan Nabi saw kepada para shahabatnya. Ciri yang kentaranya adalah, pendapat tersebut tidak ngawur, melainkan didasarkan pada pendapat shahabat, tabi’in, dan ulama-ulama hadits yang teruji keilmuannya. Tulisan kami di atas, belum bisa dibuktikan dimana kekeliruannya oleh saudara Suwarto. Sebab kami jelas merujuk pada metode keilmuan yang benar, sedangkan saudara hanya menuduh tanpa ilmu. JIka yang merujuk pada ulama yang sudah teruji dianggap ngawur, tentu yang bilang ngawur itulah yang sebenarnya sedang ngawur.
Ketiga, saudara hanya mendasarkan pendapat pada zhann yang lemah. Ketahui saja, zhann yang lemah tidak bisa menandingi haq sedikit pun (QS. 10 : 36). Para ulama hadits di atas, yang kami kutip, tetaplah sebagai para ulama yang berilmu, meskipun orang-orang yang bodoh menilai mereka sedang menipu umat. Na’udzubillah min dzalik
Ila Imam,
Kita wajib merasa diri paling benar di hadapan orang kafir, musyrik, munafiq, fasiq, zhalim, dan mufsid. Mereka-mereka yang divonis sesat oleh al-Qur`an tersebut (tentu dengan kadar kesesatan yang berbeda) jangan sampai menyilaukan saudara dari kebenaran itu sendiri. Allah swt sudah menurunkan al-Qur`an untuk mengajarkan nilai kebenaran itu sendiri, dan agar umatnya merasa paling benar di hadapan orang-orang yang sesat sebagaimana disebutkan di atas.
Bagaimana agar saudara bisa membedakan mana yang benar dan sesat? Jawabannya tentu dengan ilmu. Kami sarankan saudara belajar ilmu yang benar. Sebab di setiap zaman, orang-orang sesat selalu menuntut hak persamaan agar mereka juga dianggap sebagai orang benar. Itu ibaratnya Gayus Tambunan yang ingin disetarakan derajatnya dengan ulama yang shalih. Tentu tidak bisa.
Kami sudah menulis sedikit panduan di situs ini. Di antaranya tulisan: “Belajar Islam dengan Benar”, “Belajar al-Qur`an dengan Benar”, dan “Belajar Hadits dengan Benar”.
Ila atenk,
Intinya sama, sebagai orang “yang merasa bodoh” sebaiknya anda jangan tertipu oleh orang-orang yang ilmunya sesat. Sebab orang bodoh pun kalau terbawa sesat ya akan celaka juga. Tidak serta merta disebabkan kebodohan, celakanya tidak jadi. Ibaratnya orang yang tidak tahu mana Kota Bandung, ketika bertanya kepada orang yang sesat lalu ditunjukkan ke Cirebon, ya akan rugilah orang bodoh tersebut jika ternyata ia menempuh jalan ke Cirebon. Jadi, anda harus jelas dan tegas bahwa saya ingin ke Bandung, dan jalan ke sana anda harus tahu mana yang benar. Jangan main kompromi begitu saja, kemudian jalan-jalan yang disampaikan dari orang-orang yang tidak tahu Bandung tersebut anda satukan, jadinya anda akan kebingungan sendiri
salam… kang syarief, semoga pemikiranislam.net menjadi salah satu wadah untuk menela’ah ke-islaman secara radik hingga bisa mengantarkan pembacanya untuk istiqamah pada jalur yang diridhai Allah dan terhindar dari virus inkar sunnah.
Menyimak diskusi dengan shahabat2 diatas semakin menjelaskan kualitas keilmuan dari masing2 pembawanya. Kang Nashruddin sudah sangat berusaha untuk bisa menjelaskan berdasarkan keilmuannya, “ini lho..dasarnya, ini lho… referensinya, ini lho.. qaul ulama-nya” tapi memang diakui atau tidak diakui menghadapi tidak tahu dengan yang setengah tahu ternyata sama sulitnya, bahkan mungkin lebih sulit menghadapi orang yang “setengah tahu” karena, barangkali… (ini mah barang-kali yah bukan baranbagus…) barangkali… yang setengah tahu merasa sudah sangat tahu sehingga merasa kesempurnaan pengetahuan sudah melekat dalam diri, kalau kata orang sunda mah, “sumogol” cenah eta teh (“asak henteu atah henteu” – masak tidak.. mentah pun juga tidak).
Semoga kang syarief masih bisa tetap eksis dan bisa seperti :
???? ????? ?????? ???? ???? ???? ???? ???? ???? ????? ?????? ????? ?????? ??????
Salam
Agah Nugraha – Purwakarta
Afwan Ustdz, numpang post 2 hadits
???? ????????? ???? ?????????? ??????? ????? : ??????????? ???????????? ???????????? ???????????? ????? ??????? ???????? ???? ?????????? ???????? ?????????? ???????? ????? ?????? ??? ???????? ????? ? ????? ????? ????? ????? ???? ??????????? ???? ???? ? ?????????? ?????? ?? ?????? ????? ????????? ???????????? ???????????? ??????????. ? ?.? ???? ?:???? ??? ??? ?:????
Dari Aisyah, dari Nabi SAW bahwasanya Beliau bersabda: Beramallah kalian, Sederhanalah (jangan berlebih-lebihan),berusahalah benar dan Istiqomah.Ketahuilah sesungguhnya amal seseorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke Surga,mereka (para sahabat ) bertanya; apakah Anda juga demikian ya Rasulullah ? Beliau menjawab ; aku juga , kecuali Allah menempatkan aku dengan Rahmat dan karunia-Nya dan pada riwayat lain menurut Al- Bukhari : dengan Maghfiroh dan Rahmat-Nya.
(HR. Muslim 8:140, Ibnu Katsir 4:501)
???? ?????? ???????? ?????????? ???? ?????????? ??????? ????? : ???????? ?????? ?????????? ?????????? ???????? ???????????????? ????? ???????? ???? ? ???????? : ??????????? ???? ????? ??? ???????? ????????? ??????? ???? ???????? ???? ????????? ?????????????? ??????? ?????????????? ???????????? ??? ?????? ?????????? .??.? ??????? ?:???
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Dari Nabi SAW bersabda : Ahli Surga akan masuk ke Surga dan ahli Neraka masuk ke Neraka kemudian Allah berfirman : Keluarkanlah oleh kalian siapa yang dalam hatinya ada setimbang biji sawi keimanan ( kebaikan ) lalu mereka dikeluarkan dari Neraka dalam keadaan sudah hangus lalu dilemparkan ke sungai kehidupan.(H.R Al Bukhari 1:12)
ustdz mohon bantuan, gmn caranya agar teks arab bisa muncul di comment, jzkl
Dengan menyebut Nama ALLAH Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang…
Saya sependapat dengan Tulisan di atas..antara hadis dan Al Qur’an tidak pernah bertentangan, intinya Seseorang Masuk Surga itu adalah Hak Prerogratif ALLAH SWT… sudah banyak kisah – kisah pada jaman dahulu yang menceritakan bahwa seseorang itu bisa masuk surga hanya dengan amalan yang sedikit, namun atas Rahmat ALLAH SWT pula lah dia bisa masuk surga… bisa saja dia beramal kebajikan puluhan tahun bahkan ratusan tahun,, namun sayang nya amal kebajikannya Riya, rusak lah amalannya tersebut … Dilarang melakukan suatu amalan yang kemudian Ujub’ , sombong, takabur bahkan tidak ikhlas terhadap ALLAH SWT akan amalan tersebut… semuanya yang ada di alam semesta ini hanyalah karena Rahmat ALLAH SWT.. tidak ada suatu yang kebetulan di alam semesta ini semuanya atas Kehendak ALLAH SWT…Segala Puji Bagi ALLAH (Tuhan) Semesta Alam.. Wallahu alam bissawwab..