Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sebagai manusia yang berakal tentunya akan menempuh cara-cara untuk menemukan dan menjawab pertanyaan itu. Namun terkadang seorang muslim dan mu’min yang sudah jelas apa panduan, dan bagaimana cara-cara syar’i untuk menemukan dan mengenal Tuhan-nya itu terjebak dengan cara-cara tidak syar’i dan tidak benar untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan diatas. Salah satu diantaranya adalah dengan berfilsafat. Mereka berdalih akan menemukan Tuhan dengan cara berfikir rasional dan hanya menggunakan kebenaran sesuai dengan akal saja. Atau dengan kata lain, akal lebih didahulukan atas wahyu.
Mengenai Hadits Agama Adalah Akal
Mereka berpendapat bahwa dengan berfilsafat akan mendapatkan sebuah jawaban yang memuaskan. Tentunya hal ini adalah sesuatu yang keliru dan menyimpang. Kadang, untuk menambah keyakinan mereka dalam berfilsafat, mereka berdalil dengan ungkapan:
الدين هو العقل ومن لا دين له لاعقل له
“Agama adalah akal, siapa yang tidak memiliki agama, maka dia tidak berakal.”
Seorang Muhadits (Ahli Hadits) besar, syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahumullah, mengatakan bahwa ungkapan itu kualitasnya bathil [2]. Sebagai muslim tentunya harus menjauhi apa-apa yang bukan menjadi rujukan yang benar dalam beragama, termasuk ungkapan tadi.
Komentar Syaikh Albani Mengenai Hadits Diatas: [3]
Alasan kelemahan hadits ini (diatas) adalah pada salah seorang periwayatnya yang bernama Bisyr karena dia seorang periwayat yang Majhul (anonim) sebagaimana dikatakan oleh Al Azdy dan disetujui oleh Imam Adz Dzahaby di dalam kitabnya Mizan Al I’tidal Fi Naqd Ar Rijal dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalany di dalam kitabnya Lisan Al Mizan.
Semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan akal tidak ada satupun yang shahih, sehingga berkisar antara kualitas Dha’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu). Hadits-hadits seperti ini banyak terkoleksi di dalam buku “Al ‘Aql wa Fadhluhu” karya Abu Bakar bin Abi Ad Dun-ya atau yang lebih dikenal dengan Ibn Abi Ad Dun-ya bahkan beliau mengkritik diamnya pentashih buku tersebut, Syaikh Muhammad Zahid Al Kautsary atas riwayat-riwayat yang kualitasnya demikian.
Al Qur’an Sebagai Petunjuk Keberadaan Allah ta’ala
Oleh karena itu, hadits diatas tidak bisa dijadikan hujjah mengenai fungsi akal yang berada diatas wahyu, atau mendahulukan kepuasan akal atas petunjuk wahyu. Dan cukuplah Al Quran, As Sunnah dan pemahaman para sahabat menjadi panduan dalam menemukan Tuhan dan mengetahui dimana keberadaan-Nya, dan akal haruslah tunduk dibawah petunjuk wahyu yang ma’shum, karena akal setiap orang berbeda-beda dan tidak ma’shum.
Didalam Al Quran, Allah ta’ala berfirman bahwa Al Quran merupakan penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira.
Allah ta’ala berfirman:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An Nahl [19]: 89)
Allah ta’ala berfirman:
“Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan.” (Q.S. Asy Syu’ara [26]: 2)
Allah ta’ala berfirman:
“Thaa Siin, (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan.” (Q.S. An Naml [27]: 1)
Dalil Al Quran: Keberadaan Allah ta’ala Ada Diatas Langit (‘Arsy)
Al Quran merupakan petunjuk yang jelas dalam segala sesuatu. Sebagai muslim, kita tidak perlu mencari-cari cara dan petunjuk lain mengenai keberadaan Allah, kecuali hanya merujuk kepada Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Dalam beberapa ayat misalnya, Al Quran menjelaskan mengenai keberadaan Allah ta’ala:
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al ‘Araf [7]: 54
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Q.S. Yunus [10]: 3)
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 2)
Allah ta’ala berfirman:
“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Thahaa [20]: 5)
Allah ta’ala berfirman:
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al Furqaan [25]: 59)
Allah ta’ala berfirman:
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. As Sajdaah [32]: 4)
Allah ta’ala berfirman:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al Hadiid [57]: 4)
Al Quran telah menjelaskan mengenai keberadaan Allah ta’ala, yakni bersemayam diatas ‘Arsy. Hal itu merupakan sesuatu yang wajib kita imani selaku muslim. Jika mengingkari keberadaan Allah ta’ala ada diatas ‘Arsy, maka dia telah menjadi kafir. Sebagaimana perkataan salah satu imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah -rahimahullah-.
Imam Abu Hanifah -rahimahumullah- berkata:
“Siapa yang berkata: ‘saya tidak tahu Tuhan-ku itu di mana, di langit atau di bumi’, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: ‘Tuhan-ku itu di atas ‘Arsy. Tetapi saya tidak tahu ‘Arsy itu di langit atau di bumi.” [4]
Pernyataan Serupa yang Seperti Ini Juga Dinukil dari: [5]
1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Al Fatawa V/48.
2. Imam Ibnu Al Qayyim dalam Kitab Ijtima Al Juyusy Al Islamiyah, hlm 139.
3. Imam Adz Dzahabi dalam Kitab Al ‘Uluw, hlm 101-102.
4. Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab Al ‘Uluw, hlm 116.
5. Imam Ibnu Abi Al Izz dalam Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah, hlm 301.
Para Imam Ahlus Sunnah telah sepakat mengenai dimana Allah itu berada. Maka kebimbangan akan keberadaan Allah Rabb semesta alam, merupakan sebuah kesesatan yang nyata. Dan bisa menyebabkan seorang muslim keluar dari Islam.
Dalil As Sunnah: Allah ta’ala Ada di Langit (‘Arsy)
Telah jelaslah bagi kita bahwa Al Quran itu merupakan petunjuk yang menerangkan secara jelas dimana Tuhan itu berada. Kita tidak perlu mencari-cari cara untuk menggapai keimanan dengan jalan yang rancu, yakni melalui filsafat. Selain dari Al Quran, Allah ta’ala melalui hamba dan utusan-Nya, yakni nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan Al Quran itu melalui As Sunnah.
Dan Selayaknya dalam urusan aqidah yang agung ini kita membaca hadits yang berasal dari dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam As Sulami, ia berkata:
“Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah apakah aku harus memerdekakannya?” Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya padanya, “Dimana Allah?” Dia (budak itu, pen) menjawab, “Di langit.” “Siapa aku?” tanya Rasul. “Engkau Rasulullah (utusan Allah)” ujarnya. Kemudian Rasulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesunguhnya dia seorang mu`min.” [6]
Dari hadits yang agung diatas dapat kita simpulkan bahwa iman atau kufur seorang muslim itu dari keyakinan bahwa Allah ta’ala itu berada di langit, yakni diatas ‘Arsy. Hal ini semakna dengan ayat Al Quran yang menerangkan bahwa Allah ta’ala berada di langit.
Allah ta’ala berfirman:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (Q.S. Al Mulk [67]: 16)
Penjelasan Syaikh Albani Mengenai Ayat Diatas: [7]
Karena “فى” disini (pada ayat diatas, pen) maknanya adalah “على” (di atas), dan dalil tentang hal itu banyak, bahkan banyak sekali. Di antaranya adalah hadits terdahulu yang banyak disebut oleh manusia, dan hadits itu dengan seluruh jalannya -Alhamdulillah- shahih. Dan makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sayangilah yang di bumi.”
Bukan berarti serangga dan ulat-ulat yang ada di dalam bumi! Tetapi yang dimaksud adalah yang berada di atas bumi, seperti manusia dan hewan. Dan hal itu sesuai dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“… Maka yang di langit akan menyayangimu.”
Maksudnya: yang di atas langit. Orang-orang yang telah menerima da’wah yang haq (benar) ini mesti berada di atas kejelasan tentang perincian seperti tadi. Dan contoh lain yang mendekati hadits diatas, hadits Al Jariyah yang dia itu adalah pengembala kambing, hadits ini masyhur, saya akan menyebutkannya sebagai penguat. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Dimana Allah?” Dia menjawab: “Di langit”. [8]
Syubhat: Perkataan Allah ta’ala Ada Dimana-mana
Seringkali di kalangan kaum muslimin saat ini tersebar ucapan bahwa Allah ta’ala ada dimana-mana. Padahal ucapan itu adalah ucapan yang sangat bathil dan menyimpang. Ucapan itu sama dengan satu firqoh menyimpang dan sesat, yakni firqoh Jahmiyah [9]. Firqoh ini menyatakan bahwa Allah ta’ala ada dimana-mana, jika demikian adanya maka hal tersebut justru melecehkan Allah ta’ala sendiri. Dan secara tidak langsung dia menyatakan bahwa Allah ta’ala ada di kamar mandi, ada di WC, ada dalam tubuh binatang, ada dalam (maaf) kotoran, dan lain sebagainya. Maka hal ini tidak boleh sama sekali dengan mengatakan Allah ta’ala ada dimana-mana, dan justru itu merupakan satu kesesatan yang nyata!
Selayaknya kita melihat fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, beliau adalah seorang mufti dan mantan rektor Universitas Islam Madinah. Beliau mengatakan ketika ada yang menanyakan dimana adanya Allah ta’ala dan menjawab Allah ta’ala ada dimana-mana, maka beliau menjawab:
“Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bid’ah dari aliran Jahmiyah dan Mu’tazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang diikuti oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya.” [10]
Maka, ketika ada seseorang yang bertanya, lalu bagaimana kebersamaan Allah ta’ala bersama hamba-Nya, maka kita katakan seperti yang Syaikh Bin Baz jelaskan, beliau berkata:
“Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana (meliputi segala sesuatu).” [11]
Dan jika ada yang bertanya bagaimana cara bersemayam Allah ta’ala diatas ‘Arsy, beliau menjawab:
“Yang dimaksud dengan ‘bersemayam’ menurut Ahlus Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas ‘Arsy sesuai dengan keagungan Allah. Tidak ada yang dapat mengetahui bagaimana bersemayamnya itu, seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini. Beliau menjawab: “Kata bersemayam itu telah kita pahami. Akan tetapi, bagaimana caranya tidak kita ketahui. Mengimani hal ini adalah wajib, tetapi mempersoalkannya adalah bid’ah.” [12]
Juga perkataan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ketika ditanya tentang hal yang serupa, beliau menjawab:
“Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata: ‘Allah itu ada di mana-mana maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana, adalah kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama,bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah.” [13]
Pernyataan Imam Ahlus Sunnah Mengenai Filsafat (Ilmu Kalam):
Selanjutnya, setelah mengetahui dimanakah Allah ta’ala itu berada, dan cara-cara mengetahui keberadaannya, yakni dengan kembali kepada Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman Salaful Ummah yakni sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan umat pertama yang selamat agamanya. Kini, kita akan melihat pernyataan-pernyataan para ulama Ahlus Sunnah yang ittiba’ kepada manhaj salaf mengenai kedudukan, hukum mempelajari, dan bermajelis dengan mereka (Ahlul Kalam/Filosof).
Imam Ibnu Rajab rahimahumullah, berkata:
“Mengikuti ocehan ahli ilmu kalam dan filsafat merupakan kerusakan yang nyata. Tak sedikit orang yang mencoba menyelami perkara itu akhirnya berlumuran dengan berbagai kotorannya, sebagaimana ucapan Al Imam Ahmad bin Hambal: ‘Tidaklah orang yang melihat ilmu kalam kecuali akan terpengaruh dengan Jahmiyyah’. Beliau dan para ulama salaf lainnya selalu memperingatkan dari ahli ilmu kalam walaupun (ahli ilmu kalam itu) berniat membela As Sunnah.” [14]
Imam Al Barbahari rahimahumullah, berkata:
“Ketahuilah –semoga Allah ta’ala merahmatimu–, sungguh tidaklah muncul kezindiqan, kekufuran, keraguan, bid’ah, kesesatan, dan kebingungan dalam agama kecuali akibat ilmu kalam, ahli ilmu kalam, debat, berbantahan, dan perselisihan.” [15]
Imam Abdurrahman bin Abu Hatim Ar Razi rahimahumullah, berkata:
“Aku mendengar bapakku dan Abu Zur’ah, keduanya memerintahkan untuk memboikot ahlul bid’ah. Keduanya sangat keras terhadap mereka, dan mengingkari pemahaman kitab (Al Quran, pen) dengan akal semata tanpa bersandar dengan atsar (hadits, pen), melarang duduk bersama ahlul kalam (kaum filsafat), dan melihat kitab-kitab ahlul kalam.” [16]
Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:
“Aku telah menjumpai para ahli Ilmu Kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, tidak peduli jika mereka bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah. Mereka tidak memiliki sifat wara’ dan tidak juga takwa. [17]
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, berkata:
“Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah orang-orang zindiq (kafir).” [18]
Imam Syafi’i rahimahullah. berkata:
“Barangsiapa yang memiliki ilmu kalam, ia tidak akan beruntung.” Beliau juga mengucapkan: “Hukum untuk Ahli Kalam menurutku adalah mereka harus dicambuk dengan pelepah kurma dan sandal atau sepatu dan dinaikkan ke unta, lalu diiring keliling kampung. Dan dikatakan: ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan mengambil ilmu Kalam.’’ [19]
Imam Abu Nu’aim rahimahumullah meriwayatkan dari Imam Syafi’i, katanya, Imam Malik bin Anas apabila kedatangan orang yang dalam agama mengikuti seleranya saja, beliau berkata:
“Tentang diri saya sendiri, saya sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara anda memilih ragu-ragu. Pergilah saja kepada orang-orang yang masih ragu-ragu, dan debatlah dia.” [20]
Kesimpulan
Setelah kita mengetahui bahwa dalam Al Quran, As Sunnah dan perkataan para Ulama Salaf, mengenai keberadaan Allah ta’ala. Maka kita akan menemukan petunjuk yang sangat jelas. Sedangkan cara-cara mengetahui keberadaan Allah ta’ala dengan cara Ilmu Kalam (Filsafat), selain menimbulkan kerancuan, bimbang, bahkan menyebabkan kesimpulan yang salah, tak syak lagi bahkan para pelakunya mendapat tahdzir (peringatan keras) dari ulama Salaf.
Maka, oleh karena itu hendaknya cara-cara atau manhaj dalam memahami keberadaan Allah ta’ala itu tidaklah dimulai dengan berfilsafat, namun dengan memahami nash-nash Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman para Salaful Ummah dalam memahami nash itu. Insya Allah, pemahaman mengenai Tuhan tidak akan salah dan keliru, sehingga menyebabkan kesalahan yang sangat fatal dan konsekwensi sesat.
Wallahu ‘alam Bisshawab
_________________________
Catatan Kaki
[1]
[2] Kitab Silsilah Hadits Ad Dha’ifah wal Maudhu’ah. Hlm 53-54.
[3] Ibid., hlm 53-54.
[4] Kitab Al Fiqhul Al Absath, hlm 46.
[5] Kitab Al Itiqad Al ‘Aimmatu Al Arba’ah, oleh Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman Al Khumais, edisi Indonesia Aqidah Empat Imam Madzhab. Penerbit: Kantor Atase Agama Kerajaan Saudi Arabia.
[6] Hadits Diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, Imam Abu Daud, dan Imam An Nasaai dalam kitab Sunan-nya.
[7] Kitab Tauhid Awwalan Yaa Du’atal Islam, Edisi Indonesia: Tauhid, Prioritas Pertama dan Utama. Hlm 31-35. Jakarta: Penerbit Darul Haq.
[8] Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 537, Imam Abu Daud no. 930, Imam An Nasaai juz I, no.14-18 dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakami As Sulami Radhiyallahu ‘anhu.
[9] Jahmiyyah, yakni satu firqoh yang dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Jahm Bin Shafwan, dia mengatakan bahwa Allah ta’ala ada dimana-mana.
[10] Majalah Ad Da’wah, no 1288.
[11] Ibid., no 1288.
[12] Ibid., no 1288.
[13] Kitab Majmu’ Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133.
[14] Kitab Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hlm 43.
[15] Kitab Syarhus Sunnah, hlm 93.
[16] Kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hlm 322.
[17] Kitab Manhaj Imam Asy Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/74) oleh Dr. Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al ‘Aqiil.
[18] Kitab Talbis Iblis, hlm 112.
[19] Kitab Ahaadits fii Dzammil Kalam wa Ahlihi, hlm 99.
[20] Kitab Al Hilyah, hlm 324.











Allah (Khalik) tidak terikat dengan dimensi ruang dan waktu sebagaimana halnya makhluk. Meyakini Allah ada pada satu tempat sama halnya dengan mensifati_Nya dengan sifat makhluk yang memerlukan tempat. Sekiranya pemahaman Allah berada di atas arsy itu shohih maka bagaimana keberadaan Allah sebelum arsy itu diciptakan?
Oleh karena itu, memahami ayat-ayat seperti yang disebutkan dalam makalah di atas tidak boleh gegabah, harus hati-hati agar kita tidak mempersamakan Allah dengan makhluk dengan argumentasi yang dibangun dalam makalah di atas.
??? ????? ???
wallahu a’lam bish showaab
Allah di atas langit dan Allah istiwa di atas arsy adalah ungkapan keagungan Allah, bukan menunjukkan tempat dan arah bagiNya.
Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.
Ayat2 Quran ini saya kutip dari SHALAT CENTER, dalam halaqah Bab KEMANA KITA MENGHADAP, kalo shalat itu menghadap Allah mestinya kita harus tahu dimana Allah. Jadi DIMANA ALLAH?
Di dalam Al Quran Allah menjelas begina:
1. Allah bersemayam di atas Arsy (Ar Ra’d:2)
yang katanya tempatnya di atas langit
2. kemanapun kamu menghadap disitu wajah Allah (Al Baqarah:115)
ini membingungkan katanya di atas langit koq wajahnya dimana mana
3. DIA bersama kamu dimana saja kamu berada (Al Hadid:4)
bagiamana quran ini, menjelaskan semakin tidak jelas
4.AKU adalah dekat (Al Baqarah:186)
apalagi ini, tapi coba kita lanjutkan
5. AKU lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaaf:16)
Semakin jelas keberadaan NYA
6.DIA Maha Meliputi segala sesuatu (Fushshilat:54)
Ya Allah Engkau sangat jelas Dimana Engkau
7. Tidak ada satupun yang menyerupai Dia (Assy Syuura:11)
Jelas Dong!
8. Tidak ada yang setara dengan Dia (Al Ikhlash:4)
KESIMPULANNYA:
Allah itu Maha Meliputi segala sesuatu jadi sekecil apapun diliputi oleh Allah, maka Dia selalu bersama kita, selalu dekat dengan kita sangat deket sekali, kemanapun kita menghadap kita disitulah wajah Allah, tidak ada dalam memory di otak kita karena tidak ada satupun yang menyerupai, dan tidak ada yang setara
wallahu a’lam bish showaab
brarti slama ini aku salah kalo sring blang Allah ada dmn2, ?
jlasin lbh dtail tentang kalam(filsafat)
Share artikel ilmiah http://us1.harunyahya.com/Detail/T/724BBCSO189/productId/23478/
share artikel pendek maaf tanpa kuotasi tp cukup mahsyur nash yg dipakai,
Paling mudah memang menyatakan Alloh di langit. Dalam bahasa hadits memang menggunakan kata samaa’ utk hal itu, tp apakah artinya sama? Kesulitan kosakata adlh yg cukup mendasar, bagaimana Rasul membicarakan ledakan nuklir saat beliau lihat dlm isra mi’rajnya? beliau menggunakan istlh pohon. (btw bentukny memang seperti pohon)
Yang fatal adalah keyakinan menganggap ayat2 istiwa sebagai fakta, sedangkan ayat fakta dianggap ayat mutasyabihat (konotasi). Maksud saya arsy dan tawaa Alloh itu dianggap fakta, istiwaa itu ditafsirkan suatu subjek menempati objek ruang. Fakta ayat itu yaitu arasy memang sebuah tempat yg kita anggap memiliki ukuran ruang dan waktu sebagai objek dr istiwaa Alloh. Sedangkan ayat fakta Alloh lebih dekat daripada urat leher manusia dan lain2nya dianggap mutasyabihat atau konotasi yaitu Alloh Maha Mengawasi setiap hamba tapi Allohnya sendiri istiwa (baca: bertempat) di Arasy. Padahal fakta tersebut sudah sejalan dengan nalar manusia dan pengetahuan, sedangkan istiwaa sendiri harusnya tidak boleh ditafsir dgn kemauan kita sebagaimana wajah, tangan, jari-jari, betis Alloh pada ayat2 lainnya tidak boleh ditafsirkan memang anggota badan Alloh tetapi konotasi2 lainnya yg pantas sesuai sifat-sifat Alloh yg tidaklah serupa dengan hamba-Nya.
Maka kemudian hadist2 tentang Alloh dan ruangannya menjadi dikritisi jika ditafsirkan dengan kehendak sifat manusia, seperti Alloh turun ke langit dunia di sepertiga malam. Dikiritisi jika ditafsirkan Alloh turun kelangit dr sebelumnya di Arasy. Kemudian ada yg iseng menanyakan bumi itu bulat berarti Alloh tidak pernah di arasy lagi dong sesudah bumi dicipta krn selalu bertempat ikut memutari bumi di bagian belahan bumi yg malam. Kalau sudah seperti ini mohon jgn menyalahkan yg iseng tp mengoreksi tafsir dr istiwaa itu paradoks krn sudah ditekankan sendiri tidak boleh ditafsirkan sesuai sifat makhluk.
Sayangnya itu menjadi hadist fakta tidak seperti tafsir untuk ayat semisal hati yang berada di Jari2 ArRohman yg dikontasikan kekuasaan Alloh membola-balik hati. Kursi Alloh meliputiLangit dan bumi yg ditafsirkan kekuasaan-Nya. Mohon jangan sampai menyalahkan orang yg sudah paham akan sifat Tuhan-nya dan mereka percaya akan istiwaa Alloh tp tidak menganggap istiwaa itu berarti subjek bertmpat pada objek.
Wallohu a’lam
Asma’ul Husna merupakan sebuah kunci jawaban atas pertanyaan tentang keberadaan Allah. Asmaul Husna merupakan sebuah bentuk pola ruang berpikir yang absolut dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya yang juga merupakan sebuah dasar pola filsafat ruang dalam ajaran Islam.
Memutus salah satu rantai dari Asmaul Husna tersebut akan mengakibatkan kesalahan penafsiran tentang keberadaan Allah.
Wallahu ‘alam.
Saya sependapat dengan Umi Alimah dan Baha
Dan sedikit memberi masukan jangan dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, karena hanya ALLAH lah yang Maha Mengetahui Terkait kata2 ALLAH meliputi segala sesuatu itu jelas, soal segala sesuatu itu termasuk (ma’af) kotoran, apakah kotoran itu adalah sesuatu yang buruk? itu pendapat manusia, sedangkan ALLAH menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya, sedangkan hal paling buruk menurut ALLAH adalah nafsu, bisa jadi apa yang kita diskusikan ini adalah hal buruk dimata ALLAH, tergantung maksud hati kita masing2 dan dampak2nya pada orang lain terutama agama kita
WALLAHU A’LAM BISHOWAB
Buat Umi Alimah ……
Maksud Allah Ada dimana2 itu ilmu dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, bukan Dzat Allah ada dimana2. dan urusan menghadap dalam Shalat,,, itu perintah Allah , bahwa harus menghadap kiblat, dan kiblat sudah ditentukan pada masa Rasulullah Saw yaitu Ka’bah.
Klo masih Bingung dan ingin tahu selengkapnya …..
Ngaji di PERSATUAN ISLAM atau PEMUDA PERSATUAN ISLAM, supaya aqidah umi lurus. mf bukan nggurui………
By Pemuda Persis Harjamukti Cirebon
Buat Ponco..
Dalam bahasa Arab-nya, “Wa Huwa (Allah) ma’akum ainama…” menunjukkan tempat dimana saja kalian berada..
Yang jadi persoalan dalam hal ini adalah, pemahaman kita terhadap makna Subhanallah.
Makna Subhanallah tersirat dari beberapa ayat di nukil oleh Umi Alimah..
Jika kita bisa mendeteksi dimana keberadaan Allah, maka Allah sudah tidak lagi menjadi Subhanallah (Maha Suci Allah dari yang terpikirkan oleh manusia, baik dzat, perbuatan, tempat, dll)..
Jadi dengan ayat-ayat yang menunjukkan Allah dimana-mana, termasuk juga bersemayam di Arsy’, hal ini memberikan makna yang tidak bertentangan dngan makna Subhanallah..
Tetapi justru sebaliknya, ketika manusia mengetahui dengan menunjukkan tempat dimana Allah maka makna Subhanallah sudah hilang…
Wallahu’alam..
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.QS Al Baqarah :147, untuk itu janganlah kita menjadi manusia yang meragukan keberadaan Allah yang Maha Segala-galanya.
sebab Allah Berfirman :
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al ‘Araf [7]: 54
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Q.S. Yunus [10]: 3)
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 2)
Allah ta’ala berfirman:
“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Thahaa [20]: 5)
Allah ta’ala berfirman:
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al Furqaan [25]: 59)
Allah ta’ala berfirman:
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. As Sajdaah [32]: 4)
Allah ta’ala berfirman:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al Hadiid [57]: 4)
Al Quran telah menjelaskan mengenai keberadaan Allah ta’ala, yakni bersemayam diatas ‘Arsy. Hal itu merupakan sesuatu yang wajib kita imani selaku muslim. Jika mengingkari keberadaan Allah ta’ala ada diatas ‘Arsy, maka dia telah menjadi kafir. Sebagaimana perkataan salah satu imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah -rahimahullah-.
Imam Abu Hanifah -rahimahumullah- berkata:
“Siapa yang berkata: ‘saya tidak tahu Tuhan-ku itu di mana, di langit atau di bumi’, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: ‘Tuhan-ku itu di atas ‘Arsy. Tetapi saya tidak tahu ‘Arsy itu di langit atau di bumi.”
Ketika Allah sudah menjelaskan yang demikian, maka janganlah kita mencari2 penjelasan yang berasal dari sumber2 yang lain kecuali Al Qur’an dan As Sunah.
sekali lagi Allah ada di atas Arsy, bukan dimana-mana, untuk wujud Arsy seperti apa, kita tidak tahu, karena itu ghaib, kita hanya wajib mengimani saja.
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”
QS Hud : 7
Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Berkah Allah, Tuhan semesta alam. QS Al A’Raaf : 54
?????????? ?????? ??????? ???????? ???? ?????? ????? ????? ??????????? (???????? ???? ????????????) ????? ????? ???????? ???? ???????? ???? ??????? ???? ??????? ???? ???????? ???? ?????? ???? ??????? ?????? ???????? ?????????????? ( ???????? ???? ??????????? ???????? ) ????? : ?????? ??????????? ????? ?????? ????? ???????? ?????? ???? ???????? ???????????? ??????????? ? ????? ??? ??????? ??? ???????? ??????? ????? ???????? ??????? ????? ?????? ???????? ????? ???????? .
??? ?? ???????
??????? ? : ?? – ?? ??? ???? ???? ? ??? ????? ? ???? ??????? ?? ????? ??? ???
??? ???? ??? ??? ??? ???? ??? ???? ???????? ?? ?????? ?? : ??? ???????? ?? ????? ???? ??? ?????? ?? ???????: ??? ?????? ?? ???????? ?
Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Mutsana, Ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hajaj bin Minhal, Ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ya’la bin A’tha dari Waqi’ bin Hudus, dari pamannya Abi Rozin Al-Uqoili ( Laqith bin Amir bin Shobiroh ), Ia berkata : Saya bertanya : Ya Rasulullah, dimanakah Tuhan kita ( Allah ) berada sebelum Dia menciptakan langit dan bumi? Nabi menjawab berada di Awan tebal di tempat yang sangat tinggi di atas dan bawahnya ada angin kemudian Dia menciptakan Arsy ( Singgasana ) Nya di atas air.
H.R At-Tirmidzi 5 : 75-76 No. 3120, Ahmad 5 : 16200, Anaknya( Abdullah bin Ahmad) dalam Sunah No. 260, Ibnu Majah : 468, Ibnu Hibban : 6141, At-Thabrani dalam Kabir 26 : 468, At-Thayalis dalam Musnadnya : 1094, Ibnu Huzaimah dalam Tauhid : 179, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2 : 3306 dalam Tafsir.
????????? ????? ???????? ????? ????? ????? ???? ????????? ???? ??????????? ???? ???????????? ???? ???????? ???? ???????? ????? : ??????
???? ???????? ???? ?????? ????? (??????? ???????? ????? ????????) ????? : ????? ????? ??????? ????? ???????? ????? ????? ?????? ?????????. ?????? ?? ???????? ? : ??? ??? ???? ? : ? ??? ????? ????? ? ????? ???????
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Waqi’ , Ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Sufyan dari Al-A’masy dari Minhal dari Sa’id bin Jubair, Ia berkata : Ibnu Abbas telah ditanya tentang firman Allah : “ Wa Kaana ‘Arsyuhu ‘Alalmaai “, Dia bertanya : Berada di atas apakah air itu? Ibnu Abbas menjawab, air itu di atas angin.
Al-Hakim dalam Mustadrak 2 : 341, Ibnu Jarir 7 : 8 No. 13095 dan telah dishohihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi
????? ?????????: ?????? ????????? ????????? ?????????? ????????????. ???? ?????? ? : ???
Mujahid berkata : Yang pertama kali diciptakan adalah Arsy, Air dan Angin. Jami’ul Bayyan 5 : 247.
dengan memahami Ayat dan Hadits di atas maka jelaslah keberadaan Allah Swt, maka janganlah kita menjadi manusia yang mengutamakan AKAL dari pada DALIL.
buat yang tlis n0te di atas. Dan buat ustadz nashrudin. .
Bgaimana komentarnya ?
Saya pernah bertanya mslh ini pda beberapa ustadz persis, tpi jawabnnya kurng memuaskan ada yg menjawb
Allah it ada di mana2.
Dan ayat2 seperti yad. Allah di atar arsy it harus di ta’wil.
Tapi kalo membc tlisan ustad jeje ,bliau mengimaninya tanpa di ta’wil. Jadi bgaimana sikap sbnrnya jam’iyah persis dalm masalh ini ?
penjelasan Ust Nashrudin dan tulisan saya insya Allah sudah cukup jelas, karena itu penjelasan dari Qur’an dan Sunnah, dan kalo mas Agung masih bingung, tentang keberadaan Allah ada di Arsy maka imani saja, karena kita (manusia dan Jin) diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya, bukan untuk mempertanyakan tentang keberadaan Dzat Allah.sebagaimana penjelasan hadist Jibril ketika bertanya tentang iman, islam,ikhsan.
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya penulis artikel diatas, jika belum puas dengan artikel diatas, insya Allah, saya akan buat artikel tentang ayat-ayat yang menyatakan bahwa (ilmu) Allah ada pada segala sesuatu.
ustadz ahdan. Sya bertanya pda ustadz nashrudin sharif krna bliau aktip di persis..
Yg saya tnyakan apakah dlm hal ini jam’iyyah persis sepaham dngn antum ? Kalo sya bertnya sma sbgian ustadz dari persis di tmpt saya, di jawabnya. ALLAH ada dimana mana..
Kami memasukkan artikel ini dalam situs ini, menunjukkan bahwa kami (sebagai aktivis Persis) sepaham dengan artikel ini
Jika masih ada ustadz Persis yang tidak sepaham, jawabannya, tidak semua ustadz Persis benar-benar mengaji berdasarkan manhaj ahlul-hadits/ahlus-sunnah. Bukankah masih banyak juga ustadz Persis yang merokok padahal sudah tahu hukumnya tidak ada yang mubah, sunat apalagi wajib? Dalam hal ini, jangan singgung-singgung Persisnya, itu hanya indivdunya
saya setuju dengan pendapat mengenai Allah tidak terikat ruang dan dimensi…karena bagaimanapun Ruang dan dimensi adalah makhluq(ciptaan ALLAH)…jadi tempat dimana Allah berada tidak mungkin dapat dijangkau akal pikiran manusia..karena Allah maha ghaib..
wallahu a’lam bishawab…
sekian..
Kata kuncinya, ‘esensi’ Zat Allah, Yang Maha Gaib dan Maha Suci, justru tersucikan dari segala sesuatu hal, serta mustahil bisa dijangkau oleh semua alat indera dan akal-pikiran pd segala makhluk (bahkan termasuk para malaikat-Nya dan para nabi-Nya).
Maka segala keterangan ttg keberadaan Allah, mestinya sama sekali bukan terkait dgn ‘esensi’ Zat Allah, tetapi dgn perbuatan, pengetahuan ataupun kebenaran-Nya di alam semesta.
Baca pula “Allah dan Arsy-Nya berada dlm hati-nurani tiap makhluk” (pd http://islamagamauniversal.wordpress.com/2012/02/08/allah-dan-arsy-nya-berada-dalam-hati-nurani/).
Mestinya, menurut hemat kami, pembicaraan mengenai Allah swt diserahkan kepada Allah swt saja. Tidak perlu kita mengategorisasikannya menjadi esensi, perbuatan, pengetahuan, dsb tanpa sekehendak-Nya sebagaimana tertuang dalam wahyu. Contohnya: ‘Arasy Allah swt jelas tidak ada dalam hati nurani setiap makhluk. Wahyu sudah jelas mengajarkan hal itu. Selebihnya tentang arasy, wa lam yakun lahu kufuwan ahad
Sy tdk ingin berdebat dgn p’ ustadz, krn keberadaan Allah “di atas ‘Arsy-Nya” mmg ‘benar’ dan jelas disebut dlm kitab suci Al-Qur’an (pada QS.7:54, QS.10:3, QS.13:2, QS.20:5, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4).
Namun umat2 Islam lainnya juga benar, yg menyebutkan keberadaan Allah, seperti: “di langit” (pada QS.67:16), “Maha Dekat” (pada QS.34:50), “dekat” (pada QS.2:186), “lebih dekat daripada urat leher” (pada QS.50:16), “dekat ke jiwa-ruh-nyawa” (pada QS.56:85) dan “dimana-mana” (pada QS.57:4, QS.58:7, QS.2:115).
Adapun pengungkapan sy yg cukup lengkap, bahwa “Allah dan Arsy-Nya berada dlm hati-nurani tiap makhluk” (pd http://islamagamauniversal.wordpress.com/2012/02/08/allah-dan-arsy-nya-berada-dalam-hati-nurani/), adalah hasil pemahaman sy, yg sy anggap bisa membenarkan semua ayat tsb, secara sekaligus (tdk menjadikan ayat2 itu seolah2 slg bertentangan).
Silahkan umat memilih pemahaman yg dianggap / diyakinix ‘relatif’ plg benar / sempurna, sesuai dgn tkt pemahaman / keimananx msg2.
Masukkan seluruh ayat di atas dalam pola ruang jangan dalam pola garis, maka kita tidak akan menemui pertentangan
Hasil pemahaman Pa Syarif Muharim wajib disesuaikan dengan petunjuk Nabi saw. Jangan memahami pakai pemikiran sendiri, agar tidak tersesat. Sudah jelas dalam hadits Nabi saw yang berkaitan dengan “kedudukan Allah dan ‘arasy-Nya” yaitu di langit. Jangan menyusahkan diri mencari kesimpulan yang baru.
Terima kasih p’ ustadz.
Smga p’ ustadz dan seluruh umat Islam senantiasa selalu mendpt limpahan rahmat dan berkah-Nya. Amiin.
apakah dalam hal ini memang sudah sesat dan kafir bagi mereka yang menta’wilnya
karena kalo saya membaca tulisan2, ulama yang mentawil’ dalam hal ini asma wasifat maka dia tlas sesat .. lalu di bantah lagi merekalah yang sesattt…..
ralat ya mas.. itu surah al hadiid ayat bunyi lengkap nya begini :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy[1453] Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [1454]. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” .(surah ke 57. Al Hadiid ayat 4)
kalo pake dalil al qur’an ayat nya jangan dipotong-potong.. sekali lagi.. KALO PAKE DALIL AL QUR AN, AYAT NYA JANGAN DI POTONG-POTONG !!!…
Allah berada di atas langit dan bersemayam di dalam arsy, saya mengimani hal tersebut dan memang sudah di nash kan dalam al-qur’an dan hadist. Yang jd pertanyaan adalah bukan dimana allah itu berada (karena keberadaan Allah sudah pasti) tetapi adalah dimana arsy itu berada? di atas langit? di atas langit itu ada bulan, planet-planet lain, yang mana membentuk tata surya, dari jutaan tata surya membentuk galaksi, dari jutaan galaksi membentuk alam semesta, lalu arsy itu dimana?? di luar alam semesta? atau di dalam galaksi?
mohon dijelaskan tidak secara logika, mohon dijelaskan berdasarkan al-qur’an dan hadist, karena di dalam al-qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan, jawaban dari segala problem sejak segala makhluk diciptakan sampai kiamat nanti artinya al-qur’an adalah solusi di sepanjang zaman.
Mengenai artikel Diatas nampaknya mepersempit ruang berfikir umat Islam, berlanjut mengafirkan yang tidak sefaham. Hal ini jelas berujun yang kurang baik. Tentan keberadaan Allah tak satupun makhluk yang dapat mengetahuinya. adapun Firman dan hadist hanya menunjukkan sifat dan asumsi yang dapat dicerna akal manusia, yang pada hakikatnya tidaklah seperti itu. Karena akal manusia cukup terbatas dalam memahami ke Maha Agungan dan ke Maha Sucian Allah. Bila dikatakan Allah itu diarsy’ itu adalah penjelasan Allah sendiri melalui Firmannya, dan Arsy’ itu dilangit adalah pemahaman manusia, sedangkan penjelasan alqur’an dan al hadist yang menyatakan arsy’itu dilangit hanyalah menunjukkan tempat yang Maha Tinggi Dan Maha Luas yang tidak dapat dijangkau akal manusia bahkan langit itu sendiri bila ditanya manusia belum bisa menjelaskannya dengan pasti karena langit itu sendiri tidak dapat dibuktikan sebagai sebuah benda atau material,yang memiliki batas ruang dan masa yang dapat dilihat diraba atau diterawang yang jelas langit itu yang ada datas kita ( itu adalah pemahaman singkat pikiran manusia ), Bila langit sendiri manusia tidak dapat menafsirkannya dengan pasti apalagi Arsy’.
Jadi untuk tidak saling menyesatkan maka semua yang tertulis harus difahami bukan secara harfiah tapi secara maknawiyah, Allah bersemayam di Arsy’ bisa diartikan di “Tempat yang tidak memiliki batas ruang dan waktu” yang berada dilangit dapat diartikan di ” Tempat yang Maha Tinggi diluar jangkauan akal manusia ” meliputi segala sesuatu tidak berbatas dan berwujud seperti wujud makhlukNya.
Jadi janganlah akal fikiran kita menjebak kita untuk berkehendak mengetahu dan menjelaskan Dimana Allah itu adanya tapi cukup kita menjawab WaLLahu a’lam Bissawab. semoga hidayah Allah selalu bersama kita amiiin.
USTADZ BNARKAH FAHAM yang mentawil asma wasifat lah kafir ?? faham yang mengatakan Allah ad dmana mana tlah kafir ?? mhon penjelasannya ustad, karn kalo benar dmikian brat skaali nikahnya batal dst…Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,
???? ??? ????? ??? ???? ?? ???? ??? ?? ?????? ?? ?? ????? ???? ?? ??? ??? ???? ????? ???? ?????? ??? ????? ????? ????? ??? ?????? ???? ??? ???? ???? ??? ????? ????? ???? ??? ?? ???? ????? ?? ?????? ?? ?? ????? ??? ??? ???? ??? ?? ?????? ??? ??? ????? ???? ??????? ?????? ?? ??? ??? ?? ???? ?? ???? ?? ?????
Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,
??????????? ????? ????????? ????????
“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].
Hukum Bagi Yang Mengingkari Sifat Al-‘Uluw dan Istiwa’
Telah berlalu sebagian ucapan para Imam tentang hal ini. Dan berikut ini beberapa tambahan dari ucapan para ‘ulama Ahlus Sunnah :
@ Berkata Ibnu Khuzaimah rahimahullah : “Siapa yang tidak mengatakan bahwa Allah itu berada di atas langit-langit-Nya tinggi dan menetap di atas Arsy-Nya berpisah dari makhluk-Nya maka wajib dimintai tobat apabila dia bertobat maka diterima kalau tidak maka dipenggal lehernya kemudian dilemparkan ke tempat sampah agar manusia tidak terganggu dengan baunya”. (Disebutkan oleh Al-Hakim dalam Ma’rifatil ‘Ulumul Hadits hal. 152 dan Mukhtashor ‘Uluw hal. 225).
@ Perkataan Imam ‘Abdurrahman bin Mahdy, sesungguhnya beliau berkata : “Tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih jelek dari pengikut Jahm (Jahmiyah) yang menyatakan bahwa tidak ada di atas langit sesuatu apapun, saya berpendapat –demi Allah-, mereka ini tidak boleh dinikahi dan tidak boleh diwarisi”. Lihat As-Sunnah karya Imam ‘Abdullah bin Ahmad 1/120, Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah 1/220 dan lain-lainnya.
@ Dan ‘Abdurrahman bin Abi Hatim meriwayatkan -dalam kitab Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah- dari ‘Abdurrahman bin Mahdy bahwa beliau berkata : “Pengikut Jahm mengatakan : “Sesungguhnya Allah tidak mengajak bicara Nabi Musa”, dan mereka mengatakan : “Tidak ada di atas langit sesuatu apapun dan bahwa Allah tidak berada di atas Arsy”. Saya berpendapat mereka harus diminta bertobat, kalau mereka bertobat (maka itu yang diharapkan) dan bila tidak maka mereka harus dibunuh”. Lihat Al-Asma` wa Ash-Shifat 1/286, Al-’Uluw hal. 118, Ijtima‘ul Juyusy hal. 264 dan selainnya.
@ Dan dari Al-Ashma’iy dia berkata : Istri Jahm datang lalu singgah di tempat tukang samak maka berkatalah seorang lelaki disampingnya : “Allah berada di atas Arsy-Nya, maka dia (istri Jahm) berkata : “keterbatasan di atas keterbatasan”. Maka berkata Al-Ashma’iy : “Dia (istri Jahm) kafir dengan perkataan seperti ini”. Lihat Al-‘Uluw hal. 118 dan Mukhtashor Al-’Uluw hal. 270.
@ Dan Imam Ad-Darimy dalam kitabnya Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah membuat bab khusus (dengan judul) Bab Argumen Tentang Pengkafiran Jahmiyah, dan didalamnya (beliau mengatakan) : “… dan kita mengkafirkan mereka juga karena mereka tidak tahu dimana Allah, tidak mensifati Allah dengan “dimana” padahal Allah telah mensifatkan dirinya dengan “dimana” dan Ar-Rasul shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga mensifatkan Allah dengannya, maka Allah berfirman :
?????? ?????????? ?????? ?????????
“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am : 18)
?????? ???????????? ??????????? ???????
“Sesungguhnya Aku akan mengambilmu[2] dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali ‘Imran : 55).
?????????? ???????? ???? ??????????
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”. (QS. An-Nahl : 50)
?????????? ???? ??? ????????? ??? ???????? ?????? ???????? ??????? ???? ???????
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”.(QS. Al-Mulk : 16)
dan ayat-ayat yang semisalnya, maka ini semua adalah pensifatan dengan “dimana”. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mensifati (Allah) dengan “dimana” tatkala beliau bertanya kepada budak wanita yang hitam : “Dimana Allah ?”, dia menjawab : “Di atas langit”, beliau berkata : “Siapa saya ?”, dia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”, beliau lalu berkata : “Bebaskan dia karena dia adalah seorang wanita yang beriman”. Dan Jahmiyah dikafirkan dengan hal ini dan ini juga termasuk dari kekufuran mereka yang jelas”.
Dan beliau berkata : “Dan mereka (Jahmiyah) juga mengarahkan ibadah mereka kepada Ilah yang berada di bawah bumi yang paling bawah dan di atas permukaan bumi yang paling atas, di bawah langit yang ketujuh yang paling tinggi. Padahal sembahannya orang-orang yang shalat dari kalangan kaum mukminin yang mereka mengarahkan ibadah mereka kepada-Nya adalah Ar-Rahman yang berada di atas langit yang tujuh yang paling tinggi dan Dia Tinggi dan Menetap atas Arsy-Nya yang maha besar dan hanya milik-Nya nama-nama yang Husna (indah), Maha Berkah dan Tinggi nama-Nya. Maka kekafiran yang mana yang lebih jelas daripada apa yang kami hikayatkan dari mereka (Jahmiyah) selain dari (kekafiran) madzhab mereka”. Lihat Ar-Rodd ‘alal Jahmiyah hal. 202-203.
[
islam itu agama logika,,,mnurut pndapat saya allah itu tidak brtempat dmn2 sperti halnya mahluk dan ciptaan alloh,,,tidak terikat oleh waktu yg artinya masa lalu masa sekarang masa depan sama saja bagi nya,,,tidak terikat oleh ruang tidak bertempat di suatu tempat di suatu alam,,karena alloh berbeda dengan mahluknya,,,tidak ada yg menyerupainya,,,alloh tidak akan bisa di lihat oleh kedua mata kita,alloh tidak berbentuk,,,allah hanya bisa d rasakan oleh mata hati kita…hati2 dalam menafsirkan kata arsy,,,sekali lagi alloh tidak bertmepat di suatu tempat atw alam seperti halnya mahluk dan ciptaan nya…
Mungkinkah kata ‘langit’ tidak berarti sebagaimana ‘langit’ yang kita pahami berdasarkan ilmu pengetahuan?
Ketika kita mengatakan ‘langit’, biasanya kita mengacu kepada salah satu dari dua hal di bawah ini:
1. atmosfer bumi; atau
2. ruang angkasa tempat beredarnya bintang, planet, dan benda-benda lain.
Jika ‘Arsy Allah berada di “langit” yang berada “di atas bumi”, ini menimbulkan kerancuan, terutama karena ‘arah’ bersifat relatif terhadap posisi/kedudukan si penunjuk arah. ‘Atas’-nya seseorang di Bandung tidak sama dengan ‘atas’-nya seseorang di New York. Jika ditarik garis lurus tidak akan bertemu (kecuali, mungkin, jika di ‘ujung’ alam semesta ini ruang-waktu berubah/terdistorsi, atau sebenarnya ‘ujung’ alam ini bertemu dengan ‘ujung’ lainnya alias ‘looping’, seperti dunia Pac Man).
Saya rasa pendapat Imam Malik yang berhenti pada lafadz nash-nash yang berkenaan dengan masalah ini. Saya melihatnya sebagai pengakuan atas kemustahilan akal untuk mencapai dzat Allah.
Bisa kita bayangkan, pada masa itu ilmu astronomi belum seperti sekarang, dimana kita sudah bisa pergi ke luar angkasa dan mengamati ruang angkasa dengan teleskop Hubble. Maka, pemahaman tentang ‘langit’ sangat boleh jadi berbeda dengan yang kita pahami hari ini.
Menurut saya, sebagaimana Imam Malik mengakui kemustahilan akal untuk mengetahui bagaimana Allah bersemayam, saya rasa kebutuhan untuk mentakwil nash Al-Quran dan Hadits hingga batas tertentu juga diperlukan. Masalahnya adalah kata apa saja yang perlu ditakwil sehingga tidak ada kontradiksi antara nash yang satu dengan nash yang lain.
Wallahu’alam.
Ass.Wr.Wb.
Dimana ALLAH itu berada..???
Jika ada yang bertanya dimana pertanyaan itu bukan sifatnya ingin tahu atau ingin sekedar menguji dan kita tidak tahu jawabannya maka berikanlah jawaban seperti ini “Sesungguhnya orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.
Ini adalah masalah yang sulit bagi manusia biasa seperti kita ,klo diperdebatkan sampai hari kiamat tidak akan ketemu ALLAH SWT itu brada dimana…apapun bentuk yang keluar dari pekataan jin dan manusia itu salah karena ALLAH SWT adalah rahasia bagi jin dan manusia,..
Hemat saya jalankan perintah dan larangan ALLAH SWT dengan sempurna niscaya ALLAH SWT akan memberimu hidayah sehingga kita tahu ALLAH SWT itu berada dimana,,
setelah kita tahu ALLAH SWT itu berada dimana atas KEHENDAKNYA maka janganlah skali2 menceritakan kepada siapapun karena bisa menimbulkan syirik dan fitnah krn apa yang kita alami itu diluar kemampuan manusia biasa.
smoga kt tergolong orang2 yang BERIMAN AMIN.AMIN AMIN.
Wassalam.
lak pengen eroh matio sek ….
??? ?????? ????? ???????? ??????? ???? ???? ?? ????? ??????? ??? ???? ??? ???? : ??? (?? ???? ?????) ??? ???????, ?? ??? ?????? ??? ???? ??? ?????? ?????
Sesungguhnya Allah itu ada sebelum ruang dan waktu itu ada, kemudian Allah menciptakan ruang dan waktu (Tapi Dia tidak menciptakan ruang dan waktu untuk Ia tempati, karena ada atau tidak adanya ruang dan waktu tidak mempengaruhi keberadaan Allah Ta’ala) Allah itu ada (sekarang) seperti sebelum adanya ruang dan waktu itu.
?????? ???? ???? ??????? ??? ??????